
Penampakan kebakaran hutan di Gunung Lawu, beberapa waktu lalu – Foto: instagram/@explorejogorogo
Mounture.com — Memasuki musim kemarau, Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Lawu dan Sekitarnya mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan lereng Gunung Lawu.
Imbauan ini disampaikan menyusul meningkatnya risiko kebakaran akibat kondisi hutan yang mulai mengering.
Asisten Perhutani (Asper) BKPH Lawu Selatan KPH Lawu Ds, Mulyadi, menyebutkan bahwa berdasarkan prakiraan BMKG, wilayah tersebut mulai memasuki musim kemarau pada Mei.
“Masuk musim kemarau, kami meminta masyarakat dan pendaki tidak melakukan aktivitas yang menggunakan api karena sangat rawan memicu kebakaran,” ujarnya dikutip dari Antara.
BACA JUGA: Apa Itu MDPL? Ini Arti, Fungsi, dan Pengaruh Ketinggian saat Mendaki Gunung
Perhutani mengingatkan sejumlah aktivitas yang berpotensi memicu karhutla, antara lain mencari madu dengan api atau asap untuk mengusir lebah, mengasapi sarang hewan seperti landak, membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar, dan menyalakan api unggun tanpa pengawasan.
Kondisi vegetasi yang kering membuat api mudah menyebar dan sulit dikendalikan, terutama di kawasan hutan pegunungan.
BACA JUGA: Pendakian Gunung Arjuno-Welirang Dibuka 7 Mei 2026, Ini Syarat dan Cara Booking Tiket
Untuk mencegah terjadinya kebakaran, Perum Perhutani telah melakukan berbagai langkah mitigasi, di antaranya sosialisasi kepada kepala desa dan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH), pembuatan ilaran (sekat bakar) untuk memutus penyebaran api, serta pembentukan Satgas Pencegahan Karhutla yang melibatkan relawan dan masyarakat.
“Langkah ini merupakan upaya awal untuk mengantisipasi kebakaran di kawasan Gunung Lawu,” jelas Mulyadi.
Khusus untuk jalur pendakian seperti Cemoro Sewu, pengelola telah memasang pengumuman agar pendaki tidak menyalakan api unggun.
Jika terpaksa menggunakan api, pendaki diwajibkan memastikan api benar-benar padam sebelum meninggalkan lokasi.
(mc/ril)





