Karhutla Indonesia 2026 Meningkat, BMKG Waspadai Puncak Risiko Agustus-September

  • 13 August 2026 09:14

Ilustrasi – Foto: Balai Taman Nasional Gunung Merapi

Mounture.com — Indonesia menghadapi periode rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) 2026 seiring berlangsungnya musim kemarau dan aktifnya fenomena El Niño.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut El Niño 2026 telah berada pada level kuat dan berpotensi mencapai level sangat kuat. Kondisi tersebut dapat membuat musim kemarau menjadi lebih kering dan meningkatkan risiko kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan.

BMKG memprakirakan risiko karhutla meningkat sejak Juli dan mencapai puncaknya pada Agustus hingga September 2026. Sejumlah wilayah di Sumatera dan Kalimantan menjadi perhatian karena memiliki potensi risiko yang lebih tinggi.

Salah satu indikator yang perlu diperhatikan dalam periode rawan karhutla adalah kemunculan titik panas atau hotspot.

Berdasarkan data yang digunakan dalam pemantauan awal Agustus 2026, akumulasi titik panas nasional telah mencapai 9.538 titik. Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah menjadi wilayah dengan jumlah hotspot yang tinggi.

Lonjakan hotspot perlu menjadi perhatian karena kondisi lahan yang semakin kering dapat membuat api lebih mudah menyebar, terutama di wilayah yang memiliki lahan gambut.

BMKG sendiri mengingatkan pentingnya pemantauan hotspot secara berkala serta penguatan patroli dan sistem peringatan dini selama periode kemarau 2026.

BACA JUGA: Basecamp Pendakian Bukan Sekadar Tempat Singgah, Ini Fungsi Pentingnya

Dampak karhutla tidak hanya berkaitan dengan kerusakan hutan dan lahan, tetapi juga dapat memengaruhi kualitas udara.

Asap dari kebakaran dapat meningkatkan konsentrasi partikulat halus, termasuk PM2.5, yang berisiko mengganggu kesehatan apabila masyarakat terpapar dalam konsentrasi tinggi.

Data pemantauan yang menjadi acuan dalam informasi ini menunjukkan wilayah Kubu Raya telah memasuki kategori kualitas udara tidak sehat, bahkan mendekati kondisi berbahaya pada periode tertentu. Wilayah sekitar seperti Mempawah dan Pekanbaru juga perlu mewaspadai penurunan kualitas udara.

Karena itu, masyarakat di wilayah terdampak asap disarankan memantau informasi kualitas udara secara berkala dan mengurangi paparan apabila kondisi memburuk.

BMKG mengidentifikasi lima provinsi yang membutuhkan intensifikasi pemantauan dan pengawasan terkait potensi karhutla 2026, yaitu Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, dan Jambi.

Wilayah-wilayah tersebut menjadi perhatian karena kondisi kemarau yang lebih kering dapat meningkatkan kerentanan terhadap kebakaran.

BMKG juga menekankan bahwa kemarau dan El Niño merupakan dua fenomena berbeda. Namun, ketika terjadi bersamaan, curah hujan dapat berkurang sehingga kondisi menjadi lebih kering dan risiko karhutla meningkat.

BACA JUGA: Gunung Lembu Purwakarta: Gunung 780 Mdpl dengan Panorama Waduk Jatiluhur

Pencegahan karhutla tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah dan petugas di lapangan. Masyarakat juga memiliki peran penting untuk mencegah munculnya sumber api.

Berikut sejumlah langkah yang dapat dilakukan:

1. Jangan Membakar Lahan atau Sampah

Hindari membuka lahan dengan cara membakar. Masyarakat juga perlu berhati-hati ketika membakar sampah karena api dapat dengan mudah menyebar saat kondisi lingkungan kering.

Gunakan metode pembukaan lahan tanpa bakar untuk mengurangi risiko kebakaran.

2. Dukung Patroli dan Pemadaman

Masyarakat dapat membantu upaya pencegahan dengan melaporkan indikasi kebakaran kepada pihak berwenang serta mendukung kegiatan patroli terpadu di wilayah rawan.

Deteksi dan penanganan sedini mungkin penting untuk mencegah api meluas.

3. Jaga Kelembapan Lahan Gambut

Lahan gambut sangat rentan terbakar ketika kondisinya kering. Karena itu, upaya pembasahan atau rewetting lahan gambut menjadi salah satu strategi penting dalam pengendalian karhutla.

BMKG juga mendorong pembasahan lahan rentan dan menjaga tinggi muka air tanah di kawasan gambut sebagai bagian dari mitigasi.

4. Lindungi Diri dari Paparan Asap

Ketika kualitas udara memburuk akibat asap karhutla, masyarakat perlu mengurangi aktivitas di luar ruangan dan memantau perkembangan kualitas udara.

Penggunaan masker yang sesuai, termasuk masker N95, dapat menjadi salah satu langkah perlindungan ketika berada di wilayah terdampak partikulat asap.

(mc/pd)