
Foto: Mounture.com/Luchito Sangsoko
Mounture.com — Mendaki gunung bukan hanya membutuhkan persiapan fisik dan perlengkapan yang memadai, tetapi juga pengetahuan tentang risiko kesehatan yang bisa terjadi selama perjalanan. Salah satu kondisi yang perlu diwaspadai pendaki adalah hipoksia, yakni kondisi ketika jaringan tubuh tidak mendapatkan pasokan oksigen yang cukup untuk menjalankan fungsinya secara normal.
Risiko hipoksia perlu mendapat perhatian serius, terutama saat pendaki berada di ketinggian. Seiring bertambahnya ketinggian, tekanan udara menurun sehingga tekanan parsial oksigen juga berkurang. Akibatnya, tubuh membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan kondisi tersebut.
Jika tidak dikenali dan ditangani dengan tepat, hipoksia dapat mengganggu fungsi organ tubuh, termasuk otak. Dalam kondisi berat, kekurangan oksigen bisa menyebabkan kerusakan organ yang mengancam keselamatan pendaki.
Apa Itu Hipoksia?
Hipoksia adalah kondisi ketika jaringan tubuh kekurangan oksigen. Kondisi ini berbeda dengan hipoksemia, yaitu rendahnya kadar oksigen dalam darah arteri. Hipoksemia dapat menyebabkan hipoksia, meskipun keduanya bukan kondisi yang selalu terjadi bersamaan.
Pada kegiatan pendakian, hipoksia dapat terjadi ketika tubuh belum mampu beradaptasi dengan kadar oksigen yang tersedia di ketinggian. Risiko ini dapat meningkat ketika pendaki naik terlalu cepat tanpa memberikan waktu bagi tubuh untuk melakukan aklimatisasi atau penyesuaian terhadap lingkungan berketinggian.
Karena itu, pendaki perlu memahami tanda-tanda kekurangan oksigen dan tidak mengabaikan perubahan kondisi tubuh selama perjalanan menuju puncak.
BACA JUGA: Jangan Asal Beli! Ini Panduan Memilih Peralatan Gunung untuk Pemula
Gejala Hipoksia yang Perlu Diwaspadai Pendaki
Gejala hipoksia dapat berbeda pada setiap orang, bergantung pada tingkat keparahan dan penyebabnya. Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain:
– Napas pendek atau sesak napas, termasuk ketika melakukan aktivitas yang biasanya terasa ringan.
– Detak jantung meningkat, karena tubuh berusaha mengimbangi berkurangnya pasokan oksigen.
– Kelelahan dan tubuh terasa lemah, melebihi rasa lelah yang lazim terjadi selama pendakian.
– Kebingungan atau sulit berkonsentrasi, yang dapat menunjukkan gangguan fungsi otak akibat kekurangan oksigen.
– Perubahan warna kulit atau bibir, menjadi kebiruan atau keunguan pada kondisi tertentu.
– Pusing dan sakit kepala, yang juga dapat muncul akibat masalah kesehatan lain di ketinggian.
– Perubahan perilaku atau penurunan kesadaran, terutama jika kondisi semakin berat.
– Batuk dan napas berbunyi, yang perlu diwaspadai apabila disertai sesak napas atau penurunan kondisi fisik.
– Halusinasi dan kejang juga dapat terjadi pada kondisi kekurangan oksigen yang berat, tetapi bukan gejala yang umum pada tahap awal.
Pendaki perlu memahami bahwa gejala-gejala tersebut tidak selalu menandakan hipoksia. Sakit kepala, mual, pusing, dan kelelahan, misalnya, juga bisa berkaitan dengan penyakit ketinggian akut atau acute mountain sickness (AMS).
Cara Mengatasi Hipoksia Saat Mendaki Gunung
Hipoksia bukan kondisi yang boleh dianggap sepele. Jika pendaki mengalami sesak napas yang tidak biasa, kebingungan, gangguan koordinasi, atau penurunan kesadaran, segera hentikan pendakian dan lakukan penanganan darurat.
Berikut beberapa langkah yang perlu dilakukan:
1. Hentikan aktivitas dan evaluasi kondisi pendaki
Jangan memaksakan perjalanan menuju puncak ketika muncul gejala yang mengkhawatirkan. Pastikan pendaki berada di tempat yang aman dan terlindung dari cuaca ekstrem.
2. Turun ke ketinggian yang lebih rendah
Apabila dicurigai mengalami penyakit ketinggian yang berat, terutama jika disertai gangguan kesadaran atau kesulitan berjalan lurus, penurunan ketinggian harus segera dilakukan dengan bantuan tim pendakian atau petugas penyelamat. Jangan meninggalkan pendaki sendirian.
3. Berikan oksigen jika tersedia
Pemberian oksigen tambahan dapat membantu mengatasi kekurangan oksigen, terutama dalam keadaan darurat di ketinggian. Penggunaannya perlu disesuaikan dengan kondisi pendaki dan ketersediaan peralatan. Oksigen bukan pengganti evakuasi atau penurunan ketinggian jika kondisi sudah berat.
4. Cari bantuan medis sesegera mungkin
Jika pendaki mengalami kebingungan, penurunan kesadaran, sesak napas saat beristirahat, atau gangguan koordinasi, segera hubungi tim penyelamat dan cari pertolongan medis. Gejala tersebut dapat menandakan kondisi darurat, termasuk edema serebri ketinggian (HACE) atau edema paru ketinggian (HAPE).
Penanganan yang cepat dan tepat dapat mengurangi risiko komplikasi. Sebaliknya, menunda evakuasi demi melanjutkan pendakian dapat memperburuk keadaan.
BACA JUGA: 7 Tips Mengurangi Risiko Mulas dan Ingin BAB saat Mendaki Gunung
Bisakah Hipoksia Dicegah Saat Mendaki Gunung?
Risiko hipoksia dan penyakit ketinggian dapat dikurangi melalui persiapan yang baik. Meski demikian, kebugaran fisik tidak sepenuhnya melindungi seseorang dari gangguan kesehatan akibat ketinggian.
Ada beberapa langkah pencegahan yang dapat dilakukan pendaki.
Pertama, lakukan latihan fisik secara teratur. Latihan kardio, seperti berjalan cepat, berlari, bersepeda, atau mendaki dengan beban yang sesuai kemampuan, dapat membantu meningkatkan daya tahan tubuh. Latihan sebaiknya dilakukan bertahap sebelum jadwal pendakian.
Kedua, naik secara bertahap dan berikan waktu untuk aklimatisasi. Hindari menambah ketinggian tidur terlalu cepat, khususnya ketika mendaki gunung tinggi. Tubuh membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri dengan tekanan oksigen yang lebih rendah.
Ketiga, jaga asupan cairan dan makanan. Penuhi kebutuhan cairan dan energi selama pendakian. Namun, minum secara berlebihan bukan cara untuk mencegah penyakit ketinggian.
Keempat, kenali batas kemampuan tubuh. Jangan memaksakan diri hanya karena ingin mencapai puncak atau mengikuti kecepatan rombongan. Jika gejala penyakit ketinggian muncul dan memburuk, hentikan kenaikan ketinggian.
Kelima, jangan mengabaikan riwayat kesehatan. Pendaki yang memiliki penyakit tertentu atau berencana mendaki ke ketinggian signifikan sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga medis sebelum berangkat.
Pada akhirnya, mendaki gunung tidak hanya membutuhkan pengetahuan, pengalaman, dan perlengkapan yang memadai, tetapi juga kemampuan mengambil keputusan secara tepat. Latihan fisik membantu mempersiapkan tubuh, sedangkan aklimatisasi, pemantauan kondisi, dan kesiapan untuk membatalkan perjalanan menjadi bagian penting dari keselamatan pendakian.
Puncak memang menjadi tujuan, tetapi memastikan seluruh anggota rombongan kembali dengan selamat harus tetap menjadi prioritas utama.
(mc/pd)





