Kenapa Pendaki Jangan Istirahat Terlalu Lama di Jalur? Ini Alasannya

Istirahat di Gunung

Mounture.com — Melakukan pendakian ke gunung tentu akan menguras tenaga dan mental, terlebih jika jalur yang dilalui memiliki medan ekstrem, tanjakan panjang, dan minim jalur landai atau “bonus”.

Karena itu, istirahat saat mendaki gunung menjadi bagian penting dalam perjalanan. Berhenti sejenak dapat membantu pendaki memulihkan tenaga, mengatur napas, minum, hingga mengonsumsi makanan ringan sebelum kembali melanjutkan trekking.

Meski demikian, pendaki juga perlu memperhatikan durasi istirahat. Berhenti terlalu lama justru dapat membuat tubuh kehilangan ritme dan terasa lebih berat ketika kembali berjalan.

Lantas, mengapa pendaki disarankan tidak terlalu lama beristirahat di jalur? Berikut beberapa alasannya.

1. Suhu Tubuh Bisa Menurun

Ketika melakukan trekking, tubuh akan menghasilkan panas karena aktivitas fisik. Saat berhenti berjalan, produksi panas tubuh dapat berkurang sehingga tubuh mulai terasa lebih dingin.

Kondisi tersebut akan semakin terasa ketika pendakian dilakukan di tempat dengan suhu rendah, terutama pada pagi, sore, malam, atau ketika tubuh terkena angin.

Jika terlalu lama berhenti tanpa menjaga tubuh tetap hangat, pendaki bisa menggigil dan merasa tidak nyaman. Dalam kondisi lingkungan yang dingin dan basah, paparan suhu rendah juga dapat meningkatkan risiko hipotermia.

Karena itu, saat istirahat saat mendaki gunung, sebaiknya tetap memperhatikan kondisi tubuh dan lingkungan. Gunakan jaket atau lapisan pakaian tambahan jika diperlukan, terutama ketika angin bertiup cukup kencang.

2. Tubuh Bisa Terasa Lebih Lelah Saat Kembali Berjalan

Istirahat memang diperlukan untuk mengurangi rasa lelah. Namun, berhenti terlalu lama dapat membuat tubuh terasa “berat” ketika harus kembali bergerak.

Setelah cukup lama duduk atau berhenti, otot yang sebelumnya aktif bekerja akan mengalami perubahan kondisi. Ketika kembali berjalan, pendaki mungkin membutuhkan waktu untuk mendapatkan kembali ritme langkah dan pernapasan.

Inilah alasan mengapa banyak pendaki memilih melakukan istirahat singkat tetapi berkala, daripada berhenti dalam waktu yang terlalu lama.

BACA JUGA: 5 Mitos Hantu di Gunung Indonesia, Ada Pasar Gaib hingga Sosok Wanita

3. Otot Kaki Menjadi Kaku

Berjalan menanjak membuat otot kaki bekerja terus-menerus. Ketika kemudian berhenti dalam waktu lama, otot bisa terasa kaku, terutama jika pendaki langsung duduk dalam posisi yang sama.

Akibatnya, langkah pertama setelah istirahat panjang terkadang terasa lebih berat.

Untuk mengurangi rasa kaku, pendaki dapat melakukan peregangan ringan ketika beristirahat. Sebelum kembali berjalan, lakukan beberapa gerakan sederhana untuk membantu tubuh kembali aktif.

4. Risiko Kram Bisa Muncul

Kondisi otot yang lelah dan kaku juga dapat membuat kaki terasa tidak nyaman ketika kembali berjalan. Pada sebagian orang, kondisi tersebut dapat disertai kram.

Kram sendiri dapat dipengaruhi berbagai faktor, seperti kelelahan otot, penggunaan otot secara berlebihan, kurangnya cairan, hingga faktor lainnya.

Karena itu, selain mengatur durasi istirahat saat trekking, pendaki juga perlu menjaga asupan cairan dan tidak memaksakan tubuh ketika sudah menunjukkan tanda-tanda kelelahan.

5. Mengganggu Estimasi Waktu Pendakian

Setiap perjalanan mendaki gunung umumnya memiliki estimasi waktu, baik dari basecamp menuju pos tertentu maupun hingga mencapai puncak.

Istirahat terlalu lama dapat membuat waktu tempuh menjadi semakin panjang. Jika dilakukan berulang kali, selisih waktu tersebut bisa semakin besar dan mengganggu rencana perjalanan.

Misalnya, pendaki memperkirakan perjalanan menuju titik tertentu membutuhkan waktu beberapa jam dengan sejumlah waktu istirahat. Jika setiap berhenti berlangsung jauh lebih lama dari rencana, waktu kedatangan bisa ikut bergeser.

Hal ini menjadi semakin penting apabila pendaki memiliki batas waktu tertentu, seperti harus tiba di lokasi camp sebelum gelap atau mengejar jadwal turun gunung.

BACA JUGA: 7 Pilihan Olahraga Rekreasi untuk Jaga Kebugaran Sambil Liburan

Tidak ada satu durasi istirahat yang wajib berlaku untuk semua pendaki. Kondisi fisik, usia, medan, cuaca, beban carrier, ketinggian, pengalaman, serta kondisi kesehatan dapat memengaruhi kebutuhan istirahat seseorang.

Anggapan bahwa istirahat maksimal 15 menit dapat digunakan sebagai patokan praktis untuk menjaga ritme perjalanan, tetapi bukan aturan mutlak.

Yang lebih penting adalah mengenali kondisi tubuh. Jika sudah mengalami kelelahan berat, pusing, mual, sesak, menggigil, nyeri yang tidak biasa, atau gejala lain yang mengkhawatirkan, jangan memaksakan diri hanya demi mengejar durasi istirahat tertentu.

Pendaki juga sebaiknya memanfaatkan waktu berhenti secara efektif, seperti minum secukupnya, mengonsumsi makanan ringan, mengatur napas, mengecek kondisi kaki, dan menggunakan pakaian pelindung sesuai kondisi cuaca.

Pada akhirnya, istirahat saat mendaki gunung tetap penting, tetapi perlu disesuaikan dengan kondisi tubuh dan medan perjalanan. Istirahat singkat dan teratur dapat membantu menjaga ritme, sementara istirahat lebih lama diperlukan jika tubuh memang membutuhkan pemulihan.

(mc/ns)