NPEA 2026 Dorong Kemasan Oleh-Oleh Jadi Media Storytelling Pariwisata

  • 2 September 2026 08:03

NPEA 2026

Mounture.com — Oleh-oleh selama ini dikenal sebagai buah tangan yang membawa pulang kenangan dari sebuah perjalanan. Namun, melalui Nusantara Packaging Experience Awards (NPEA) 2026, kemasan oleh-oleh didorong untuk memiliki peran lebih luas sebagai media storytelling dan promosi pariwisata Indonesia.

Kompetisi mahasiswa tingkat nasional yang diinisiasi perusahaan MarTech asal Singapura, HOVARLAY, tersebut mengajak generasi muda mengeksplorasi bagaimana kemasan oleh-oleh dapat menjadi pengalaman digital yang memperkenalkan destinasi, budaya, hingga masyarakat di balik sebuah produk.

NPEA 2026 diikuti mahasiswa dari lebih dari 40 perguruan tinggi dan politeknik di Indonesia. Peserta ditantang merancang ulang kemasan oleh-oleh tradisional dengan mengintegrasikan teknologi sehingga konsumen dapat mengakses cerita mengenai suatu destinasi hanya melalui pemindaian menggunakan smartphone.

Perubahan perilaku wisatawan menjadi salah satu latar belakang penyelenggaraan NPEA 2026. Wisatawan saat ini tidak hanya mencari destinasi untuk dikunjungi, tetapi juga pengalaman yang autentik dan memiliki makna.

Dalam konteks tersebut, oleh-oleh menjadi salah satu titik interaksi yang potensial. Produk yang dibawa pulang wisatawan tidak hanya berakhir di tangan pembelinya, tetapi sering kali dibagikan kepada keluarga, teman, maupun rekan kerja.

Artinya, sebuah oleh-oleh dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan destinasi kepada orang-orang yang bahkan belum pernah mengunjungi daerah tersebut.

NPEA 2026 kemudian menawarkan gagasan agar kemasan tidak berhenti sebagai wadah produk. Dengan dukungan teknologi, kemasan dapat menjadi semacam “duta digital” yang membawa cerita sebuah destinasi ke lebih banyak orang.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dikutip dalam penyelenggaraan NPEA menunjukkan wisatawan mancanegara menghabiskan rata-rata US$143 untuk berbelanja dan membeli oleh-oleh selama berkunjung ke Indonesia.

Potensi tersebut dinilai dapat diperkuat dengan menghadirkan informasi mengenai daerah asal produk, tradisi lokal, perajin, hingga kekayaan budaya melalui kemasan.

BACA JUGA: Dedi Mulyadi Larang Pendakian Gunung di Jawa Barat Selama Musim Kemarau

Dalam kompetisi ini, peserta tidak hanya dituntut menghasilkan desain kemasan yang menarik secara visual.

Mereka diminta memilih satu destinasi di Indonesia, baik yang memiliki kekayaan tradisi budaya, ikon daerah, kawasan pesisir, maupun komunitas lokal. Selanjutnya, cerita mengenai destinasi tersebut diterjemahkan ke dalam desain kemasan yang terhubung dengan pengalaman digital.

Teknologi Augmented Reality (AR) melalui platform HOVARLAY digunakan untuk menghadirkan berbagai konten digital. Mulai dari cerita lokal, tradisi, karya perajin, bentang alam, hingga kekayaan budaya dapat ditampilkan melalui pengalaman yang tidak mungkin disampaikan secara maksimal lewat kemasan konvensional.

Konsep tersebut sekaligus memperlihatkan perubahan fungsi kemasan di era digital. Jika sebelumnya kemasan lebih banyak berfungsi sebagai pelindung dan identitas produk, kini kemasan dapat berkembang menjadi medium interaksi dan storytelling.

Karya peserta NPEA 2026 dinilai oleh profesional dari berbagai bidang, termasuk Indonesian Packaging Federation (IPF), Asosiasi Desainer Grafis Indonesia (ADGI), Creativeans, Waykambas Branding, SUKA STUDIO, serta praktisi dari industri branding, desain, inovasi ritel, dan teknologi imersif.

Karya para finalis kemudian dipamerkan dalam NPEA Award Ceremony yang menjadi bagian dari rangkaian Indonesia Retail Summit & Expo (IRSE) 2026.

Acara tersebut digelar oleh HIPPINDO pada 26-27 Agustus 2026 di Swissôtel Jakarta PIK Avenue. Para peserta memperebutkan hadiah dengan total nilai lebih dari Rp80 juta yang terbagi ke dalam lebih dari 10 kategori penghargaan.

Dalam acara penghargaan tersebut, Ashley Hermawan dari Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) berhasil meraih Grand Prize.

Posisi Second Prize diraih Olivia Aditya dari Universitas Multimedia Nusantara (UMN), sementara Nurrahmah Kansa Aradhana dari Institut Kesenian Jakarta (IKJ) meraih Third Prize.

Selain tiga penghargaan utama, sejumlah mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi juga memperoleh penghargaan dalam kategori lainnya. Di antaranya berasal dari Universitas Informatika dan Bisnis Indonesia (UNIBI), Institut Teknologi Nasional Bandung (ITENAS), Universitas Negeri Makassar (UNM), Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, IKJ, Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), Institut Teknologi Sains Bandung (ITSB), Universitas Budi Luhur (UBL), dan Universitas Katolik Soegijapranata.

BACA JUGA: Tren Liburan Bali 2026 Bergeser: Wisatawan Mulai Pilih Micro-Trip 48 Jam

Penyelenggaraan NPEA 2026 juga mendapat dukungan dari sejumlah mitra industri dan teknologi, termasuk Surya Palacejaya, Pixelindie, dan VR/AR Association (VRARA).

Brian Tay, Co-Founder HOVARLAY, mengatakan oleh-oleh memiliki potensi lebih besar dari sekadar menjadi pengingat perjalanan.

“Setiap kemasan memiliki potensi menjadi media bercerita, bukan hanya bagi wisatawan yang membelinya, tetapi juga bagi keluarga dan teman yang menerimanya,” ujar Brian.

Menurutnya, ketika kemasan mampu membuat seseorang tertarik mengenal sebuah daerah hingga merencanakan kunjungan, pengalaman wisata tidak lagi berhenti ketika wisatawan meninggalkan destinasi.

Mengusung tema “Oleh-Oleh Nusantara, Gifts of the Archipelago”, NPEA 2026 menjadi salah satu contoh bagaimana desain, teknologi, dan storytelling budaya dapat dipadukan untuk mendukung promosi pariwisata dan ekonomi kreatif Indonesia.

Konsep tersebut sekaligus memperkenalkan connected packaging, di mana kemasan tidak hanya menjadi bagian dari produk, tetapi juga pintu masuk menuju pengalaman digital yang lebih luas.

(mc/pd)