
Foto : dok. Biodiversitywarriors
Mounture.com — Mendaki gunung membutuhkan tenaga dan stamina yang tidak sedikit. Jalur menanjak, membawa carrier, hingga berjalan selama berjam-jam sering membuat tubuh terasa pegal, terutama di bagian paha, betis, pinggang, dan lutut.
Selain beristirahat, dipijat, atau menggunakan obat pereda nyeri, masyarakat Papua sejak lama mengenal tanaman tradisional yang dipercaya ampuh meredakan pegal-pegal, yaitu daun gatal.
Meski namanya terdengar unik, tanaman ini telah lama dimanfaatkan oleh masyarakat adat Papua sebagai obat tradisional untuk membantu meredakan berbagai keluhan pada tubuh.
Daun gatal memiliki nama ilmiah Laportea ducumana dan termasuk dalam famili Urticaceae. Di kalangan masyarakat Biak, tanaman ini dikenal dengan nama daun raprap.
Tanaman ini tumbuh alami di hutan Papua dan memiliki ciri khas berupa bulu-bulu halus atau duri mikroskopis di permukaan daunnya. Saat bersentuhan dengan kulit, bulu tersebut akan memicu sensasi gatal dan sedikit perih.
Meski demikian, sensasi tersebut justru dipercaya menjadi bagian dari efek yang membantu mengurangi rasa pegal dan nyeri otot.
BACA JUGA: Ingin Mendaki Gunung Merbabu via Selo? Simak Rute, Waktu Tempuh, dan Tipsnya
Selama bertahun-tahun, daun gatal dimanfaatkan sebagai obat tradisional untuk membantu meredakan berbagai keluhan, antara lain:
– Pegal-pegal setelah aktivitas berat.
– Nyeri otot.
– Badan terasa kurang fit.
– Sakit kepala.
– Sakit perut.
– Nyeri pada persendian.
Hingga kini, daun gatal masih banyak digunakan oleh masyarakat Papua sebagai bagian dari pengobatan tradisional.
Apabila ingin mencoba daun gatal, masyarakat Papua biasanya menggunakan cara berikut:
1. Petik beberapa lembar daun gatal yang masih segar.
2. Gosokkan perlahan pada bagian tubuh yang terasa pegal, seperti paha, betis, lutut, atau punggung.
3. Setelah beberapa saat akan muncul sensasi gatal, hangat, sedikit perih, dan bentol-bentol kecil.
4. Reaksi tersebut umumnya berlangsung sekitar 10–15 menit.
5. Setelah sensasi mereda, banyak pengguna mengaku tubuh terasa lebih ringan dan pegal berkurang.
Adapun permukaan daun gatal dipenuhi rambut halus yang mengandung senyawa alami. Saat mengenai kulit, rambut tersebut dapat memicu reaksi lokal berupa rasa gatal, panas, dan bentol sementara.
Pada sebagian orang, sensasi ini cukup ringan, tetapi pada orang lain bisa terasa lebih kuat tergantung sensitivitas kulit masing-masing.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa spesies dari genus Laportea mengandung berbagai senyawa bioaktif yang berpotensi memiliki efek terhadap nyeri dan peradangan.
Namun, bukti ilmiah mengenai efektivitas Laportea ducumana sebagai terapi untuk pegal-pegal masih terbatas dan belum cukup untuk menyimpulkan manfaat klinisnya secara pasti.
Karena itu, daun gatal sebaiknya dipandang sebagai bagian dari pengobatan tradisional yang telah lama digunakan masyarakat Papua, bukan sebagai pengganti penanganan medis.
Meskipun berasal dari bahan alami, penggunaan daun gatal tetap memerlukan kehati-hatian.
Hindari menggunakannya apabila:
– Memiliki kulit yang sangat sensitif.
– Sedang mengalami luka terbuka.
– Memiliki riwayat alergi terhadap tanaman tertentu.
– Muncul reaksi berlebihan seperti pembengkakan hebat atau sesak napas setelah penggunaan. Bila hal ini terjadi, segera hentikan penggunaan dan cari pertolongan medis.
Bagi pendaki, pemulihan tubuh setelah mendaki tetap perlu didukung dengan istirahat yang cukup, hidrasi, asupan nutrisi, serta peregangan otot agar tubuh kembali bugar.
(mc/mg)





