4 Cara Mencegah Hipotermia Saat Mendaki Gunung, Jangan Tunggu Tubuh Menggigil

 

Jaket Gunung

Mounture.com — Hipotermia menjadi salah satu penyebab kematian yang paling sering mengancam pendaki gunung. Kondisi ini dapat terjadi ketika suhu inti tubuh turun jauh di bawah batas normal sehingga tubuh kesulitan menghasilkan panas untuk mempertahankan fungsinya.

Sayangnya, masih banyak pendaki yang belum memahami cara mencegah maupun menangani hipotermia. Padahal, tindakan sederhana seperti menjaga tubuh tetap kering hingga menggunakan pakaian yang tepat dapat mengurangi risiko kondisi berbahaya tersebut.

Berikut beberapa cara mencegah hipotermia saat mendaki gunung.

Untuk diketahui, hipotermia adalah kondisi ketika suhu tubuh turun hingga di bawah 35 derajat Celsius. Saat hal itu terjadi, tubuh akan berusaha menghasilkan panas dengan cara menggigil.

Jika paparan udara dingin terus berlangsung dan energi tubuh habis, penderita akan berhenti menggigil, kesadaran mulai menurun, hingga berisiko mengalami gangguan fungsi organ yang dapat berujung pada kematian jika tidak segera mendapat pertolongan.

Pendaki gunung menjadi salah satu kelompok yang paling rentan mengalami hipotermia karena harus beraktivitas di lingkungan bersuhu rendah, berangin, bahkan dalam kondisi hujan.

BACA JUGA: 6 Jalur Pendakian Gunung Sindoro, Kenali Karakter Medannya Sebelum Mendaki

1. Hindari Tubuh Tetap Basah

Pakaian basah menjadi salah satu penyebab utama tubuh kehilangan panas lebih cepat. Apabila pakaian terkena hujan, keringat berlebih, atau tercebur ke dalam air, segera cari tempat yang aman untuk mengganti pakaian dengan yang kering. Jangan menunda karena tubuh yang basah akan mempercepat terjadinya hipotermia.

2. Hindari Paparan Angin Dingin

Selain suhu rendah, angin kencang juga dapat mempercepat hilangnya panas tubuh. Jika berada di area yang sangat terbuka atau berangin, sebaiknya segera mencari lokasi yang lebih terlindung, seperti di balik bukit, pepohonan, atau mendirikan tenda jika situasi memungkinkan.

3. Jangan Sampai Dehidrasi

Banyak pendaki mengira cuaca dingin membuat tubuh tidak membutuhkan banyak cairan. Padahal, dehidrasi dapat mengganggu kemampuan tubuh menghasilkan panas.

Pastikan tetap minum air secara berkala meski tidak merasa haus. Konsumsi minuman hangat bila tersedia untuk membantu menjaga suhu tubuh tetap stabil.

4. Gunakan Pakaian Hangat Berlapis

Pilih pakaian yang mampu menjaga suhu tubuh tetap hangat, seperti jaket gunung, pakaian berbahan fleece atau wool, sarung tangan, kupluk, buff, dan kaus kaki yang kering.

Sistem berpakaian berlapis (layering) juga sangat disarankan karena mampu mempertahankan panas tubuh sekaligus memudahkan penyesuaian ketika suhu berubah selama pendakian.

BACA JUGA: Cari Gunung yang Tidak Ramai? Ini 6 Gunung di Indonesia yang Masih Minim Pendaki

Selain mengetahui cara pencegahannya, pendaki juga perlu mengenali tanda-tanda awal hipotermia, antara lain:

– Menggigil hebat.
– Tubuh terasa sangat dingin.
– Bibir atau ujung jari mulai membiru.
– Sulit berkonsentrasi.
– Bicara mulai pelo atau tidak jelas.
– Gerakan menjadi lambat dan tidak terkoordinasi.
– Mengantuk atau kesadaran mulai menurun.

Apabila menemukan rekan pendaki dengan gejala tersebut, segera pindahkan ke tempat yang terlindung dari angin, lepaskan pakaian basah, ganti dengan pakaian kering, hangatkan tubuh secara bertahap, dan segera lakukan evakuasi apabila kondisinya semakin memburuk.

Hipotermia bukan sekadar merasa kedinginan, tetapi kondisi medis serius yang dapat mengancam nyawa. Oleh karena itu, setiap pendaki sebaiknya mempersiapkan perlengkapan yang memadai, memahami kondisi cuaca, menjaga asupan cairan dan energi, serta mengenali gejala awal hipotermia sebelum melakukan pendakian.

Dengan persiapan yang baik dan pengetahuan yang cukup, risiko hipotermia saat mendaki gunung dapat diminimalkan sehingga aktivitas di alam bebas tetap aman dan menyenangkan.

(mc/pd)