Gunung Lawu via Singolangu, Jalur Pendakian Klasik dengan Pemandangan Telaga Sarangan

Gerbang Pendakian Gunung Lawu via Singolangu (dok. instagram/@milan2707b)

Mounture.com — Gunung Lawu via Singolangu menjadi salah satu jalur pendakian yang menarik bagi pencinta alam yang ingin merasakan sensasi mendaki melalui rute klasik.

Jalur yang berada di Sarangan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, ini sempat ditutup selama sekitar 32 tahun sebelum akhirnya kembali dibuka pada Mei 2019.

Berbeda dengan jalur pendakian Gunung Lawu lainnya yang lebih populer, Singolangu menawarkan suasana yang masih alami, jalur yang relatif sepi, serta panorama indah yang menghadap langsung ke Kota Magetan dan Telaga Sarangan.

Tak hanya menawarkan keindahan alam, jalur ini juga memiliki nilai sejarah yang kuat karena dipercaya sebagai rute yang dahulu digunakan Prabu Brawijaya V menuju Gunung Lawu. Di sepanjang perjalanan, pendaki juga dapat menemukan sejumlah prasasti yang diyakini berkaitan dengan sejarah tersebut.

Salah satu keunggulan jalur Singolangu adalah suasananya yang masih sangat alami. Vegetasi hutan masih terjaga dan jumlah pendaki relatif lebih sedikit dibanding jalur lain seperti Cemoro Sewu atau Cemoro Kandang.

Pada malam hari, pendaki dapat menikmati gemerlap lampu Kota Magetan dan Telaga Sarangan dari beberapa titik terbuka di sepanjang jalur.

Bagi pencinta sejarah, jalur ini juga menawarkan pengalaman berbeda karena memiliki sejumlah peninggalan yang dikaitkan dengan perjalanan Prabu Brawijaya menuju Gunung Lawu.

BACA JUGA: 5 Tips Mengikuti Kompetisi Lari Pertama untuk Pelari Pemula, Jangan Asal Start

Untuk mencapai Puncak Hargo Dumilah, pendaki akan melewati lima pos utama sebelum melanjutkan perjalanan menuju Sendang Derajat.

Berikut estimasi waktu pendakian berdasarkan pengalaman di lapangan.

1. Basecamp – Pos 1 (Kerun-Kerun)

– Estimasi: 1 jam
– Realita: sekitar 1 jam 15 menit

Jalur masih tergolong landai dan ramah untuk pemanasan. Pendaki akan melewati area perkebunan warga serta camping ground.

2. Pos 1 – Pos 2 (Banyu Urip)

– Estimasi: 30 menit
– Realita: sekitar 1 jam

Medan didominasi jalur landai dengan hutan yang cukup rapat sehingga perjalanan terasa lebih teduh.

3. Pos 2 – Pos 3 (Hutan Cemara)

– Estimasi: 1 jam 45 menit
– Realita: sekitar 2 jam

Mulai memasuki jalur yang lebih menanjak dengan kontur tanah yang cukup berdebu ketika musim kemarau.

4. Pos 3 – Pos 4 (Taman Edelweis)

– Estimasi: 2 jam
– Realita: sekitar 3 jam

Inilah salah satu bagian paling menantang karena pendaki harus melewati Tanjakan Pengik yang memiliki kemiringan sekitar 45 derajat. Jalur cukup menguras tenaga sehingga membutuhkan kondisi fisik yang prima.

5. Pos 4 – Pos 5 (Cokro Paningalan)

– Estimasi: 45 menit
– Realita: sekitar 1 jam 30 menit

Jalur masih terus menanjak tanpa bonus jalan datar dengan kondisi hutan yang tetap cukup rapat.

6. Pos 5 – Sendang Derajat

– Estimasi: 1 jam 30 menit
– Realita: sekitar 2 jam

Medan mulai terbuka dengan pemandangan yang semakin luas. Namun, kawasan ini juga dikenal memiliki embusan angin yang sangat kencang sehingga pendaki harus lebih berhati-hati.

Banyak pendaki memilih beristirahat atau bermalam di sekitar Sendang Derajat sebelum melanjutkan perjalanan menuju Warung Mbok Yem dan akhirnya mencapai Puncak Hargo Dumilah pada keesokan harinya.

BACA JUGA: Gunung Andong via Sawit: Jalur, Estimasi Waktu dan Akses

Sebelum memilih jalur ini, ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan.

– Siapkan logistik sejak dari bawah karena di basecamp belum tersedia warung untuk sarapan atau membeli kebutuhan pendakian.
– Pastikan kondisi fisik dalam keadaan prima karena jalur cukup panjang dan memiliki beberapa tanjakan terjal.
– Ikuti petunjuk jalur yang tersedia karena terdapat cukup banyak percabangan dan jalur satwa liar.
– Gunakan perlengkapan pendakian yang sesuai, terutama jaket, headlamp, dan perlengkapan menghadapi cuaca dingin.
– Perhatikan kondisi cuaca karena beberapa titik terbuka memiliki embusan angin yang cukup kuat.

Salah satu pengalaman menarik saat melalui Gunung Lawu via Singolangu adalah suasananya yang sangat tenang. Pendaki dapat menikmati hutan yang masih alami tanpa keramaian, bahkan tidak jarang tidak bertemu pendaki lain sepanjang perjalanan.

Kondisi ini memberikan pengalaman mendaki yang lebih dekat dengan alam, tetapi juga menuntut pendaki untuk lebih mandiri dan mempersiapkan segala kebutuhan dengan matang.

Selain itu, seluruh pendaki diharapkan menerapkan prinsip Leave No Trace, yaitu membawa turun kembali seluruh sampah yang dihasilkan selama pendakian.

Dengan menjaga kebersihan dan kelestarian alam, jalur klasik Gunung Lawu via Singolangu dapat terus dinikmati oleh generasi pendaki berikutnya.

(mc/ril)