
Foto: Kementerian Pariwisata
Mounture.com — Tahun 2026 menjadi momen bersejarah bagi masyarakat Sumatera Barat. Sebab, Jam Gadang, ikon Kota Bukittinggi yang terkenal hingga mancanegara, genap berusia 100 tahun sejak pertama kali dibangun pada 1926.
Selama satu abad, menara jam yang berdiri megah di pusat Kota Bukittinggi ini tidak hanya menjadi penunjuk waktu, tetapi juga saksi perjalanan sejarah bangsa, simbol budaya Minangkabau, dan magnet utama pariwisata Sumatera Barat.
Dikutip dari laman Kementerian Pariwisata, dijelaskan bahwa jam Gadang dibangun pada 20 Juni 1926 pada masa pemerintahan Hindia Belanda.
enara tersebut merupakan hadiah dari Ratu Wilhelmina kepada H.R. Rookmaaker, pejabat kontrolir (controleur) Fort de Kock, nama lama Kota Bukittinggi.
Pembangunannya menelan biaya sekitar 3.000 gulden dan dirancang oleh arsitek lokal Minangkabau, Yazid Abidin atau Jazid Rajo Mangkuto.
Nama “Jam Gadang” sendiri berasal dari bahasa Minangkabau yang berarti “Jam Besar”, merujuk pada empat buah jam berukuran besar yang terpasang di setiap sisi menara.
Seiring waktu, Jam Gadang berkembang menjadi simbol identitas Kota Bukittinggi dan salah satu landmark paling terkenal di Indonesia.
BACA JUGA: Jakarta Fair 2026 Resmi Dibuka, Ada Diskon Besar, Ribuan Tenant dan Konser Musik Selama 32 Hari
Salah satu fakta menarik tentang Jam Gadang adalah teknik konstruksinya yang tidak menggunakan semen maupun rangka besi. Bangunan setinggi 26 meter ini dibangun dengan campuran kapur, pasir putih, dan putih telur sebagai bahan perekat utama.
Meski menggunakan metode tradisional, konstruksi tersebut terbukti sangat kuat dan mampu bertahan melewati berbagai perubahan zaman serta kondisi alam selama hampir 100 tahun.
Keunikan lainnya terletak pada mesin jam yang didatangkan langsung dari Jerman dan dibuat oleh Bernard Vortmann di kota Recklinghausen. Hingga kini, mesin tersebut masih menjadi bagian penting dari Jam Gadang.
Wisatawan juga sering memperhatikan penggunaan angka Romawi “IIII” pada posisi angka empat, bukan “IV” seperti yang lazim digunakan. Detail unik ini menjadi salah satu daya tarik yang membuat Jam Gadang berbeda dari menara jam lainnya di dunia.
Jam Gadang mengalami beberapa perubahan bentuk atap yang mengikuti dinamika politik dan sejarah Indonesia.
Pada masa kolonial Belanda, menara ini memiliki atap berbentuk kubah bergaya Eropa. Ketika Jepang menduduki Indonesia, bentuk atap diubah menyerupai pagoda khas Jepang.
Setelah Indonesia merdeka, atap Jam Gadang kembali mengalami perubahan menjadi berbentuk gonjong Rumah Gadang, arsitektur khas Minangkabau yang masih dipertahankan hingga saat ini.
Perubahan tersebut menjadikan Jam Gadang sebagai simbol perjalanan sejarah sekaligus representasi identitas budaya masyarakat Sumatera Barat.
BACA JUGA: Kereta Panoramic Kian Diminati, Jumlah Penumpang Melonjak 62 Persen pada 2026
Selama satu abad berdiri, Jam Gadang telah menyaksikan berbagai peristiwa penting, mulai dari masa penjajahan Belanda, pendudukan Jepang, perjuangan kemerdekaan, hingga perkembangan Kota Bukittinggi sebagai pusat pendidikan, perdagangan, dan pemerintahan di Sumatera Barat.
Bukittinggi bahkan pernah menjadi ibu kota darurat Republik Indonesia pada masa revolusi kemerdekaan. Karena nilai sejarahnya yang tinggi, Jam Gadang sering disebut sebagai penjaga memori Kota Bukittinggi dan simbol perjalanan panjang masyarakat Minangkabau.
Saat ini, Jam Gadang menjadi destinasi wisata utama di Sumatera Barat. Lokasinya yang strategis di pusat Kota Bukittinggi membuat wisatawan mudah mengakses berbagai destinasi lain seperti Pasar Ateh, Benteng Fort de Kock, hingga Ngarai Sianok.
Bagi wisatawan, berkunjung ke Bukittinggi terasa belum lengkap tanpa mengabadikan foto di depan Jam Gadang. Ikon ini juga kerap muncul dalam berbagai materi promosi wisata, suvenir, kartu pos, hingga kampanye pariwisata nasional.
Selain menjadi objek wisata sejarah, kawasan Jam Gadang juga rutin menjadi lokasi festival budaya Minangkabau, pertunjukan seni tradisional, konser musik, hingga perayaan malam pergantian tahun yang selalu dipadati pengunjung.
Pemerintah Kota Bukittinggi telah menyiapkan berbagai agenda untuk memperingati satu abad Jam Gadang yang akan berlangsung pada 3–21 Juni 2026.
Salah satu kegiatan utama adalah seminar internasional yang membahas sejarah, warisan budaya, serta peran Jam Gadang dalam perkembangan Kota Bukittinggi dan masyarakat Minangkabau.
Perayaan 100 tahun Jam Gadang diharapkan menjadi momentum penting untuk memperkuat promosi pariwisata, budaya, dan ekonomi kreatif Sumatera Barat di tingkat nasional maupun internasional.
Memasuki usia satu abad, Jam Gadang membuktikan dirinya bukan sekadar menara jam peninggalan masa lalu. Dengan sejarah panjang, arsitektur unik, dan peran penting dalam kehidupan masyarakat, Jam Gadang telah menjelma menjadi simbol kebanggaan Sumatera Barat yang akan terus hidup dan diwariskan kepada generasi mendatang.
(mc/pd)





