Kenapa Lombok Terasa Lebih Dingin? Ini Penjelasan BMKG dan Dampaknya bagi Pendaki Rinjani

Pendaki Rinjani

Mounture.com — Jika dalam beberapa hari terakhir masyarakat Lombok dan Nusa Tenggara Barat (NTB) merasakan udara yang lebih dingin dari biasanya, terutama pada malam hingga pagi hari, ternyata ada penjelasan ilmiahnya.

Berdasarkan informasi dari BMKG NTB, kondisi tersebut merupakan salah satu tanda bahwa wilayah NTB telah memasuki musim kemarau. Perubahan musim ini menyebabkan suhu udara pada malam dan pagi hari terasa lebih dingin dibandingkan periode sebelumnya.

Fenomena ini juga dirasakan cukup kuat di kawasan pegunungan, termasuk di Gunung Rinjani yang menjadi salah satu destinasi pendakian favorit di Indonesia.

BACA JUGA: Diskon Tiket Kereta Api 30 Persen Selama Libur Sekolah 2026, Simak Daftar KA dari Bandung

BMKG menjelaskan ada beberapa faktor utama yang menyebabkan udara di Lombok dan wilayah NTB terasa lebih dingin saat musim kemarau.

1. Minimnya Tutupan Awan

Pada musim kemarau, langit cenderung lebih cerah dengan jumlah awan yang lebih sedikit. Kondisi ini membuat panas yang tersimpan di permukaan bumi pada siang hari lebih cepat terlepas ke atmosfer saat malam tiba.

Akibatnya, suhu udara pada malam hingga pagi hari dapat turun secara signifikan.

2. Pengaruh Angin Monsun Australia

Faktor lain yang berperan adalah aktifnya Angin Monsun Australia. Angin ini membawa massa udara yang lebih kering dan dingin menuju wilayah Indonesia bagian selatan, termasuk Nusa Tenggara Barat.

Inilah sebabnya udara terasa lebih sejuk dibandingkan saat musim hujan.

3. Kelembapan Udara Lebih Rendah

Musim kemarau identik dengan kelembapan udara yang lebih rendah. Kondisi udara yang kering membuat tubuh manusia merasakan suhu yang lebih dingin, terutama saat malam hari atau ketika berada di dataran tinggi.

Adapun perubahan suhu ini menjadi perhatian khusus bagi para pendaki yang berencana menjelajahi Gunung Rinjani dalam beberapa pekan ke depan.

Meski cuaca siang hari terlihat cerah dan hangat, suhu di kawasan pegunungan dapat turun drastis ketika malam tiba. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko hipotermia, terutama bagi pendaki yang tidak mempersiapkan perlengkapan dengan baik.

Hipotermia merupakan kondisi ketika suhu tubuh turun di bawah batas normal akibat paparan udara dingin dalam waktu tertentu. Jika tidak ditangani dengan cepat, kondisi ini dapat membahayakan keselamatan pendaki.

BACA JUGA: 7 Cara Mengetahui Tumbuhan Liar yang Layak Dimakan Saat Survival di Alam Bebas

Untuk mengantisipasi suhu dingin selama musim kemarau, pendaki disarankan melakukan beberapa persiapan berikut:

– Membawa jaket dan pakaian hangat yang memadai.
– Menggunakan sleeping bag yang sesuai dengan suhu pegunungan.
– Menjaga kondisi fisik sebelum pendakian.
– Mengonsumsi makanan dan minuman yang cukup untuk menjaga energi tubuh.
– Memastikan seluruh perlengkapan pendakian dalam kondisi baik.
– Selalu memantau informasi cuaca terbaru sebelum memulai perjalanan.

Musim kemarau memang menjadi salah satu waktu favorit untuk mendaki Gunung Rinjani karena cuaca relatif cerah dan jalur pendakian lebih aman dibandingkan musim hujan.

Namun, di balik kondisi tersebut terdapat tantangan berupa suhu dingin yang lebih ekstrem, terutama pada malam dan dini hari.

Karena itu, pendaki diimbau untuk tidak meremehkan perubahan suhu yang terjadi. Persiapan yang matang menjadi kunci utama untuk menikmati keindahan Gunung Rinjani dengan aman dan nyaman.

Jangan terkecoh oleh cuaca siang yang cerah, sebab suhu di pegunungan dapat berubah drastis hanya dalam hitungan jam. Keselamatan selama pendakian selalu dimulai dari kesiapan fisik, mental, dan perlengkapan yang memadai.

(mc/ns)