
Foto: Pemkab Temanggung
Mounture.com — Matahari perlahan muncul dari ufuk timur saat warga Desa Gununggempol, Kecamatan Jumo, Temanggung berkumpul di tengah hamparan kebun kopi pada Rabu pagi, 20 Mei 2026.
Di tengah udara sejuk pegunungan dan suara kokok ayam dari kejauhan, warga datang membawa tampah serta tenong berisi nasi megono menuju lokasi ritual di sepanjang jalan desa yang berada di tepi kebun kopi.
Suasana hangat dan sederhana itu menjadi penanda dimulainya tradisi sadranan atau “Nublek Kopi”, tradisi turun-temurun masyarakat petani kopi di wilayah utara Temanggung untuk menyambut musim panen kopi.
Tradisi tersebut digelar sebagai bentuk rasa syukur atas hasil bumi sekaligus doa agar panen kopi tahun ini berjalan lancar dan menghasilkan panen melimpah.
Ritual diawali dengan prosesi “tembung”, yakni penyampaian maksud dan tujuan pelaksanaan tradisi Nublek Kopi.
Sesepuh Desa Gununggempol, Saryono, mengatakan tradisi tersebut telah dilaksanakan sejak puluhan tahun lalu sebagai ungkapan syukur masyarakat kepada Tuhan Yang Maha Esa.
“Tradisi ini sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan atas kesuburan tanah, melimpahnya sumber air dan hasil pertanian yang baik. Selain itu, juga sebagai doa agar panen kopi tahun ini diberi kelancaran dan hasil yang melimpah,” katanya dikutip dari laman Pemkab Temanggung, belum lama ini.
Menurutnya, Nublek Kopi juga menjadi sarana mempererat hubungan sosial antarwarga sekaligus menjaga warisan budaya leluhur agar tetap lestari di tengah perkembangan zaman.
Ia menegaskan generasi muda perlu terus dilibatkan dalam tradisi adat agar budaya desa tidak hilang. “Kalau tradisi seperti ini tidak dijaga, generasi muda nanti bisa melupakan budaya desa sendiri,” ujarnya.
BACA JUGA: Tips Olahraga Jalan Pagi agar Tubuh Lebih Sehat dan Bugar
Usai doa bersama yang dipimpin tokoh agama setempat, warga menggelar makanan yang dibawa dari rumah di atas daun pisang untuk disantap bersama.
Suasana penuh keakraban tampak ketika warga saling berbagi makanan sambil bercengkerama di tengah hamparan kebun kopi.
Tradisi makan bersama tersebut menjadi simbol kebersamaan sekaligus rasa syukur masyarakat atas hasil alam yang diberikan.
Kepala Desa Gununggempol, Eko Wasono, mengatakan tradisi Nublek Kopi tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga menjadi identitas desa penghasil kopi Robusta di kawasan lereng pegunungan Temanggung.
“Mayoritas masyarakat di sini merupakan petani kopi Robusta. Tradisi Nublek Kopi menjadi bentuk penghormatan terhadap alam, sekaligus pengingat agar masyarakat tetap menjaga kelestarian lingkungan,” ujarnya.
Selain dikenal sebagai sentra kopi Robusta, Desa Gununggempol juga dikenal sebagai desa percontohan konservasi lingkungan.
Masyarakat setempat memiliki aturan larangan berburu burung di wilayah desa sebagai upaya menjaga keseimbangan ekosistem alam.
Menurut Eko, keberlangsungan pertanian kopi sangat bergantung pada kondisi lingkungan yang sehat dan lestari.
“Kami berupaya menjaga keseimbangan alam, karena keberlangsungan pertanian kopi juga sangat bergantung pada ekosistem yang baik,” tandasnya.
Usai acara makan bersama, sesepuh desa dan perwakilan warga menuju kebun kopi untuk melaksanakan ritual wiwit atau petik kopi perdana sebagai simbol dimulainya musim panen kopi 2026.
Selain Nublek Kopi, masyarakat Desa Gununggempol juga masih rutin melestarikan berbagai tradisi budaya lain seperti nyadran bulan Ruwah dan nyadran kali sebagai bentuk penghormatan terhadap alam dan leluhur.
(mc/ns)







