Maharasa Gastronomy Experience 2026 di Karangasem, Sajikan Ritual Sakral hingga Dining Mindfulness

Maharasa Gastronomy Experience 2026

Mounture.com — Program Maharasa Gastronomy Experience kembali digelar pada 13 April 2026 di Desa Adat Geriana Kauh, Kabupaten Karangasem, Bali. Kegiatan ini menjadi lanjutan dari rangkaian Maharasa sebelumnya yang sukses diselenggarakan di Candi Ijo pada Desember 2025.

Pada edisi kali ini, Maharasa mengangkat konsep eco-teologi Bali, yang berakar dari praktik ritual Pantun Masa Padi Taun. Filosofi ini menekankan hubungan harmonis antara manusia, alam, dan dimensi spiritual yang telah menjadi bagian dari kehidupan agraris masyarakat Bali sejak lama.

Dalam tradisi tersebut, sawah tidak hanya dipandang sebagai lahan pertanian, tetapi juga sebagai ruang hidup yang dimuliakan. Sementara itu, Dewi Sri dihormati sebagai simbol kesuburan dan kesejahteraan, menjadikan beras sebagai bagian dari proses sakral yang sarat makna spiritual.

Kegiatan Maharasa diawali dengan ritual Papag Segehan sebagai bentuk penyucian awal bagi para peserta. Selanjutnya, peserta disuguhkan atraksi Ngoncang yang dibawakan oleh perempuan desa setempat.

Atraksi ini menggambarkan rasa syukur dan kebahagiaan petani perempuan pascapanen melalui gerakan ritmis yang penuh makna, sekaligus mencerminkan keterhubungan erat antara manusia dan alam.

Peserta juga mengikuti prosesi Melukat, yakni ritual pembersihan diri menggunakan air suci. Prosesi ini dimaknai sebagai upaya penyelarasan antara tubuh, pikiran, dan energi spiritual sebelum memasuki rangkaian pengalaman berikutnya.

BACA JUGA: Access by KAI Makin Dominan, Transaksi Tembus 8,1 Juta di Triwulan I 2026

Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan kunjungan ke Museum Sang Hyang Dedari untuk memahami sejarah serta praktik ritual yang berkembang di desa tersebut.

Peserta kemudian diajak menyusuri area persawahan sambil mengamati padi lokal jenis taun. Dalam sesi ini, Jero Bandesa Adat Geriana Kauh, Nyoman Subrata, memaparkan sembilan tahapan ritual pertanian yang masih dijalankan masyarakat, mulai dari sebelum masa tanam hingga pascapanen.

Memasuki malam hari, sebanyak 26 peserta mengikuti Maharasa Dining Experience yang mengedepankan konsep mindfulness.

Dalam sesi ini, peserta diajak memahami cara makan dan minum secara berkesadaran sebagai bentuk penghormatan terhadap Tuhan, alam, serta sumber pangan. Aktivitas makan tidak hanya dilihat sebagai pemenuhan kebutuhan fisik, tetapi juga sebagai praktik spiritual.

Turut hadir dalam kesempatan tersebut perwakilan Bupati Karangasem, I Made Agus Budiyasa, serta Ida Bagus Made Gunawan dari Samsara Living Museum.

Mereka memaparkan konsep Kanda Pat, yakni empat saudara spiritual yang diyakini menyertai manusia sejak dalam kandungan hingga akhir kehidupan. Konsep ini juga diimplementasikan dalam etika makan, yang menekankan kesadaran, rasa syukur, serta penghormatan terhadap dimensi spiritual.

BACA JUGA: Ciplukan, Buah Liar yang Sering Ditemukan Pendaki Gunung Ternyata Punya Banyak Manfaat

Setelah sesi santap malam, peserta menyaksikan ritual sakral Sang Hyang Jaran Gading. Ritual ini menampilkan kondisi trans yang dipercaya memiliki fungsi perlindungan serta menjaga keseimbangan energi dalam kehidupan masyarakat.

Maharasa sendiri dihadirkan sebagai upaya mereaktualisasi nilai-nilai leluhur Nusantara melalui pendekatan gastronomi, sekaligus mendorong refleksi akan pentingnya hubungan harmonis antara manusia, Tuhan, dan alam.

“Banyak sekali hal baru yang dipelajari. Di Maharasa dan desa ini, kita melihat Bali dari sisi yang berbeda. Ini sangat menyentuh,” ujar Winnie, peserta asal Singapura.

Ke depan, program Maharasa direncanakan akan terus diselenggarakan di Desa Adat Geriana Kauh sebagai bagian dari upaya pelestarian budaya.

Melalui kegiatan ini, masyarakat luas diharapkan dapat belajar dari kearifan lokal Bali, mulai dari nilai spiritual, praktik hidup berkesadaran, hingga harmoni antara manusia, alam, dan tradisi sebagai inspirasi kehidupan yang lebih berkelanjutan.

(mc/ril)