
Mie Ongklok
Mounture.com — Kabupaten Wonosobo merupakan salah satu daerah di Jawa Tengah yang dikenal dengan udara sejuk serta panorama pegunungan yang memukau.
Wilayah ini terletak di barat daya Semarang dan berjarak sekitar 520 kilometer dari Jakarta, dengan ketinggian wilayah antara 270 hingga 2.250 meter di atas permukaan laut.
Nama Wonosobo sendiri berasal dari dua kata dalam bahasa Jawa, yakni “Wono” yang berarti hutan dan “Sobo” yang berarti mengunjungi.
Secara makna, Wonosobo dapat diartikan sebagai kawasan pegunungan berhutan yang memiliki pesona alam indah sehingga membuat banyak orang tertarik untuk datang dan berkunjung.
Selain terkenal dengan destinasi alam seperti Dieng Plateau, Wonosobo juga memiliki beragam kuliner khas yang menggugah selera. Berikut beberapa rekomendasi wisata kuliner khas Wonosobo yang wajib dicoba saat berkunjung ke daerah ini.
BACA JUGA: 5 Wisata Kebumen yang Wajib Dikunjungi, Surga Pantai dan Geopark di Jawa Tengah
1. Lontong Tetel
Aroma rempah yang kuat langsung terasa ketika memasuki rumah makan yang menyajikan Lontong Tetel. Hidangan ini menghadirkan sensasi rasa yang berbeda dari sajian lontong pada umumnya.
Lontong disajikan dengan pilihan isian daging seperti ayam, tetelan sapi, hingga kambing yang dimasak empuk. Semua bahan tersebut kemudian disiram dengan kuah santan yang gurih dan segar.
Bagi pecinta pedas, tersedia juga pilihan kuah kemlecer yang menghadirkan sensasi pedas menggigit. Hidangan ini semakin lengkap dengan tambahan sayuran seperti wortel, buncis, edamame, kacang polong, dan jagung.
Selain Lontong Tetel, tersedia juga menu lain seperti Segotel dan Segondog, yaitu nasi dengan tetelan daging yang disajikan bersama tempe goreng dan buncis crispy. Harga seporsi menu ini cukup terjangkau, mulai dari sekitar Rp12.000 hingga Rp25.000.
2. Nasi Megono
Nasi Megono merupakan salah satu makanan khas yang sering dijadikan menu sarapan oleh masyarakat Wonosobo.
Hidangan ini berupa nasi yang dicampur dengan kol hijau serta parutan kelapa berbumbu yang sebelumnya telah dikukus hingga matang. Rasanya gurih dan ringan sehingga cocok dinikmati di pagi hari.
Nasi Megono biasanya disajikan dengan berbagai lauk pendamping seperti tempe kemul, tahu bacem, dan peyek teri. Selain lezat, harga menu ini juga cukup ramah di kantong sehingga menjadi favorit banyak orang.
BACA JUGA: Cara Memprediksi Cuaca saat Mendaki Gunung dari Tanda Alam, Penting untuk Keselamatan!
3. Mie Ongklok
Jika berbicara tentang kuliner khas Wonosobo, Mie Ongklok menjadi salah satu yang paling ikonik.
Hidangan ini berupa mie kuning yang disajikan dengan kuah kental berbumbu khas. Kuah tersebut dimasak menggunakan tepung kanji sehingga menghasilkan tekstur yang lebih pekat dibandingkan kuah mie pada umumnya.
Mie Ongklok biasanya dilengkapi dengan irisan kol, daun kucai, serta tambahan lauk seperti sate sapi dengan bumbu kacang dan tempe kemul.
Perpaduan rasa gurih, sedikit manis, serta tekstur kuah yang unik membuat Mie Ongklok menjadi kuliner yang selalu dicari wisatawan saat datang ke Wonosobo.
4. Tempe Kemul
Tempe Kemul merupakan gorengan khas Wonosobo yang hampir selalu hadir sebagai pendamping berbagai hidangan lokal, terutama Mie Ongklok.
Dalam bahasa Jawa, kata “kemul” berarti selimut, yang merujuk pada lapisan adonan tepung yang membalut irisan tempe sebelum digoreng.
Adonan tepung ini biasanya dibumbui dengan kunyit, bawang putih, dan rempah lain sehingga menghasilkan rasa gurih serta aroma yang khas.
Selain sebagai pelengkap hidangan utama, Tempe Kemul juga sering dinikmati sebagai camilan sore yang cocok dipadukan dengan secangkir teh hangat.
5. Carica Dieng
Carica merupakan buah khas dataran tinggi Dieng yang masih satu keluarga dengan pepaya. Secara ilmiah, tanaman ini memiliki nama latin Carica candamarcensis dari famili Caricaceae.
Berbeda dengan pepaya biasa, buah Carica memiliki ukuran lebih kecil dengan rasa segar yang sedikit asam.
Di Wonosobo, Carica umumnya diolah menjadi berbagai produk seperti manisan, sirup, hingga buah dalam kemasan. Produk olahan Carica tidak hanya dipasarkan di wilayah lokal, tetapi juga telah menembus pasar regional hingga nasional.
Bahkan pada tahun 2012, Carica Dieng resmi memperoleh Hak Paten Indikasi Geografis dari Kementerian Hukum dan HAM Republik Indonesia, sehingga menjadi salah satu komoditas unggulan Kabupaten Wonosobo.
(mc/ns)






