
Kawasan Malioboro Yogyakarta masih menjadi salah satu tempat nongkrong favorit – Foto: Shutterstock/Daniel_Ferryanto
Mounture.com — Kawasan Malioboro kembali menjadi salah satu pusat aktivitas wisata di Yogyakarta selama periode Ramadhan hingga libur Lebaran.
Selain dikenal sebagai ikon wisata kota, kawasan ini juga menjadi titik pertemuan berbagai aktivitas budaya, kuliner, serta ekonomi kreatif yang meningkat menjelang hari raya.
Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta mencatat bahwa libur Lebaran secara konsisten menjadi salah satu puncak kunjungan wisatawan ke wilayah tersebut.
Data Dinas Pariwisata DIY menunjukkan bahwa pada beberapa periode Lebaran sebelumnya, jumlah wisatawan yang datang ke Yogyakarta dapat mencapai ratusan ribu hingga lebih dari satu juta orang dalam satu masa liburan.
Kepala Dinas Pariwisata DIY, Singgih Raharjo, mengatakan bahwa Malioboro tetap menjadi salah satu destinasi paling ramai dikunjungi wisatawan domestik.
“Malioboro tetap menjadi magnet wisatawan ketika datang ke Yogyakarta, terutama saat musim libur panjang seperti Lebaran, karena kawasan ini mudah diakses dan memiliki banyak aktivitas wisata dalam satu area,” ujarnya.
BACA JUGA: Nyepi 2026 di Bali: Saat Pulau Dewata Terdiam 24 Jam dalam Keheningan
Dalam beberapa tahun terakhir, kawasan Malioboro mengalami penataan cukup signifikan. Relokasi pedagang kaki lima ke Teras Malioboro serta penataan jalur pedestrian membuat kawasan ini semakin nyaman bagi pejalan kaki.
Wisatawan yang datang ke Malioboro umumnya melakukan berbagai aktivitas sederhana seperti berjalan kaki di sepanjang Jalan Malioboro, mengunjungi Pasar Beringharjo, menikmati kuliner khas Yogyakarta, hingga berfoto di lokasi ikonik seperti Titik Nol Kilometer dan Tugu Yogyakarta.
Selama bulan Ramadhan, suasana Malioboro juga terasa berbeda. Menjelang waktu berbuka puasa, pedagang kuliner musiman bermunculan di sekitar kawasan ini dan menawarkan berbagai makanan tradisional yang menjadi bagian dari tradisi berbuka puasa masyarakat Yogyakarta.
Pada malam hari, aktivitas wisata biasanya berlanjut dengan wisata kuliner serta pertunjukan seni jalanan yang sering muncul di sepanjang kawasan Malioboro.
Selain destinasi populer seperti Malioboro, Keraton Yogyakarta, dan Taman Sari, tren wisata di Yogyakarta dalam beberapa tahun terakhir mulai bergeser ke pengalaman yang lebih personal dan berbasis komunitas.
Salah satu konsep wisata yang berkembang adalah wisata susur gang, yaitu tur berjalan kaki yang mengajak wisatawan menjelajahi lorong-lorong kampung sambil mendengar cerita sejarah lokal.
Beberapa komunitas yang mengembangkan kegiatan ini antara lain Gang-Gangan, Mlampah Ziarah, Walk The Past, dan Alon Mlampah. Tur biasanya dilakukan dalam kelompok kecil sehingga peserta dapat memahami cerita sejarah kota secara lebih mendalam.
BACA JUGA: Surga Tersembunyi di Filipina, Manami Resort Sajikan Hutan Tropis dan Laut Jernih
Selain tur sejarah, wisata berbasis komunitas juga berkembang melalui eksplorasi kuliner lokal. Salah satu komunitas yang aktif mengadakan kegiatan ini adalah Krida Kuliner, yang mengajak peserta mencicipi berbagai makanan tradisional di sudut-sudut kota Yogyakarta.
Kegiatan semacam ini memberikan pengalaman berbeda bagi wisatawan karena tidak hanya mencicipi makanan khas, tetapi juga mengenal cerita di balik warung atau pedagang legendaris yang telah lama menjadi bagian dari budaya kuliner kota.
Sebagai pusat wisata kota, kawasan Malioboro juga memiliki berbagai pilihan akomodasi mulai dari hotel berbintang hingga penginapan kecil di sekitar pusat kota.
Lokasinya yang dekat dengan berbagai objek wisata membuat banyak wisatawan memilih menginap di area sekitar Malioboro agar lebih mudah menjangkau berbagai destinasi.
Dengan kombinasi wisata kota, kuliner tradisional, serta aktivitas berbasis komunitas, Malioboro diperkirakan masih akan menjadi salah satu pusat pergerakan wisata di Yogyakarta selama periode Ramadhan dan libur Lebaran.
(mc/ril)






