
Mounture.com — Di tengah lanskap urban Pantai Indah Kapuk (PIK) 2 yang modern dan dinamis, jamu menemukan ruang barunya. Bukan lagi sekadar minuman tradisional yang identik dengan nostalgia, jamu kini hadir sebagai pengalaman budaya yang dikurasi dengan pendekatan kekinian.
Momentum ini ditandai dengan peresmian Cafe Jamu Indonesia oleh Ketua Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Taruna Ikrar, sebuah langkah simbolik yang menandai babak baru perjalanan jamu Indonesia.
Bagi Taruna Ikrar, jamu bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan pengetahuan hidup yang menyimpan potensi besar bagi kesehatan masyarakat dan ekonomi kreatif nasional.
Indonesia, menurutnya, memiliki sekitar 18.000 jenis jamu dan lebih dari 600.000 ragam kuliner tradisional, sebuah kekayaan biodiversitas dan budaya yang belum sepenuhnya dimaksimalkan.
Jamu, lanjut dia, dalam konteks ini, diposisikan sebagai identitas bangsa sekaligus peluang strategis di era modern.
BACA JUGA: Talaga Biru, Danau Jernih di Kaki Gunung Ciremai dengan Kisah Legenda Wali Songo
Di PIK 2, jamu hadir dengan bahasa yang akrab bagi generasi urban. Cafe Jamu Indonesia, yang dihadirkan oleh PT Acaraki Nusantara Persada (acaraki), mengusung konsep Jamu Experience Cafe.
Pengunjung tidak hanya menikmati racikan jamu, tetapi juga diajak memahami filosofi jamu—mulai dari makna jampi sebagai doa, oesodo sebagai kesehatan, hingga perjalanan pengetahuan lintas generasi yang diwariskan secara turun-temurun.
Founder & Director acaraki, Jony Yuwono, menegaskan bahwa kehadiran cafe ini merupakan bagian dari komitmen jangka panjang untuk mendekatkan jamu ke kehidupan sehari-hari masyarakat modern. Inovasi menjadi jembatan utama.
Salah satunya melalui peluncuran acaraki Jamu Capsule, alternatif konsumsi jamu yang praktis untuk gaya hidup dengan mobilitas tinggi.
Tiga varian yakni Turmeric, Shades of Gold, dan All About Ginger hadir sebagai pelengkap jamu seduh, tanpa memutus akar tradisinya.
BACA JUGA: OK OCE Indonesia Dorong Wirausaha Lestari Lewat Coral Champions di Bali Ocean Days 2026
Di sinilah peran negara menjadi krusial. Taruna Ikrar mengapresiasi langkah acaraki yang mengembangkan jamu secara bertanggung jawab dan patuh regulasi.
Menurutnya, inovasi berbasis bahan alam hanya bermakna jika mengedepankan keamanan, mutu, dan standar ilmiah. Kepercayaan publik terhadap jamu Indonesia dibangun dari kepastian regulasi, bukan sekadar klaim manfaat.
Sebagai arsitek transformasi jamu nasional, Taruna mendorong kolaborasi ABG (Akademik, Bisnis, Government) untuk mempercepat hilirisasi riset jamu.
Dengan sekitar 30.000 spesies tanaman herbal, Indonesia memiliki modal besar untuk membawa jamu ke pasar global. Namun, hal tersebut harus dibarengi pengawasan ketat terhadap jamu ilegal dan produk yang mengandung bahan berbahaya.
Lebih dari sekadar tempat minum jamu, Cafe Jamu Indonesia di PIK 2 menjadi simbol bahwa jamu tidak ditinggalkan zaman. Ia justru sedang menemukan jalannya, menjadi bagian dari gaya hidup urban, kesehatan modern, dan diplomasi budaya Indonesia ke dunia.
(mc/ril)






