
Danau Segara Anak di Gunung Rinjani – Foto: Kementerian LHK
Mounture.com — Sepanjang tahun 2025, Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) mencatat berbagai dinamika penting dalam pengelolaan kawasan konservasi. Mulai dari tingginya angka kunjungan wisata, kontribusi signifikan terhadap Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), hingga tantangan serius dalam pengelolaan sampah dan keselamatan pengunjung.
Data ini menjadi gambaran meningkatnya minat masyarakat terhadap wisata alam Rinjani, sekaligus pengingat akan pentingnya tanggung jawab bersama dalam menjaga kelestarian salah satu ikon alam Indonesia tersebut.
Sektor pariwisata alam di Taman Nasional Gunung Rinjani memberikan kontribusi nyata bagi negara. Sepanjang 2025, TNGR mencatat PNBP sebesar Rp25.926.691.000.
Angka ini menunjukkan peran strategis kawasan konservasi tidak hanya sebagai destinasi wisata, tetapi juga sebagai sumber pendanaan penting untuk mendukung pengelolaan dan pelestarian kawasan.
BACA JUGA: 4 Alat Canggih Pendukung Pendakian Gunung, Aman dan Praktis di Alam Bebas
Tingginya animo wisatawan tercermin dari jumlah kunjungan, baik aktivitas pendakian maupun non-pendakian.
Kunjungan non-pendakian tercatat sebanyak 52.108 pengunjung, terdiri dari:
– Wisatawan Nusantara: 51.311 orang
– Wisatawan Mancanegara: 797 orang
Sementara itu, aktivitas pendakian Gunung Rinjani mencapai 80.214 pendaki, dengan komposisi:
– Wisatawan Mancanegara: 43.236 pendaki
– Wisatawan Nusantara: 36.978 pendaki
Data tersebut menegaskan posisi Rinjani sebagai salah satu destinasi pendakian favorit dunia.
BACA JUGA: Dua Gunung dengan Jalur Pendakian Terpanjang di Indonesia, Tantangan Nyata bagi Pendaki
Tingginya aktivitas wisata juga diiringi dengan berbagai insiden yang memerlukan penanganan khusus. Sepanjang 2025, tercatat beberapa kasus evakuasi pengunjung, antara lain:
– Jatuh atau terkilir: 58 kasus
– Tersesat: 2 kasus
– Sakit: 4 kasus
– Hipotermia: 5 kasus
– Meninggal dunia (MD): 3 kasus
Catatan ini menjadi pengingat pentingnya kesiapan fisik, perencanaan matang, serta kepatuhan terhadap standar keselamatan saat berwisata di kawasan taman nasional.
Peningkatan kunjungan turut menghadirkan tantangan besar dalam pengelolaan sampah. Berdasarkan data 2021–2025, volume sampah di kawasan Rinjani masih menjadi pekerjaan rumah bersama.
Pada tahun 2025, total sampah yang tercatat meliputi:
– Sampah pendakian: 30.359,52 kilogram
– Sampah non-pendakian: 1.197,82 kilogram
Angka ini menunjukkan bahwa aktivitas wisata, jika tidak dibarengi kesadaran lingkungan, dapat memberi tekanan serius terhadap ekosistem kawasan konservasi.
(mc/ril)






