Mounture.com — PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) terus memperkuat komitmen dalam mendukung agenda pembangunan berkelanjutan. Melalui program penanaman pohon dan penerapan Reverse Vending Machine (RVM), ASDP menargetkan reduksi emisi karbon hingga 622,5 ton CO₂ atau setara dengan penanaman 3.000 pohon pada tahun 2025.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi konkret perusahaan untuk mendukung percepatan dekarbonisasi sektor maritim, sejalan dengan visi pemerintah mewujudkan Net Zero Emission (NZE) 2060.
Corporate Secretary ASDP, Shelvy Arifin, menegaskan bahwa sebagai BUMN yang berperan dalam konektivitas antar-pulau, ASDP memiliki tanggung jawab besar menjaga kelestarian lingkungan, khususnya ekosistem laut Indonesia.
“Program penanaman pohon dan RVM ini bukan sekadar kampanye lingkungan, melainkan implementasi komitmen nyata ASDP dalam transisi hijau. Kami ingin memastikan setiap langkah perusahaan tidak hanya berdampak pada keberlanjutan bisnis, tetapi juga pada kelestarian ekosistem laut dan darat,” jelas Shelvy.
BACA JUGA: Discovery Ancol Hotel Sukses Gelar Festival Satu Nusantara Sambut HUT ke-80 RI
Untuk mencapai target tersebut, ASDP tidak hanya mengandalkan program lingkungan, tetapi juga mengimplementasikan berbagai strategi ramah lingkungan, di antaranya:
– Eco-driving atau eco-sailing pada armada kapal,
– Peremajaan armada secara bertahap,
– Digitalisasi pemantauan konsumsi bahan bakar untuk menekan emisi berlebih.
Selain itu, Reverse Vending Machine (RVM) telah ditempatkan di beberapa titik strategis seperti kantor pusat ASDP, Kementerian Perhubungan, Kementerian BUMN, dan Pelabuhan Pelindo di Danau Toba. Hingga Juni 2025, inisiatif ini berhasil berkontribusi pada pengurangan emisi karbon lebih dari 10 ton.
BACA JUGA: DAMRI Hadirkan Trayek Wisata Horor Bali, Dukung Budaya dan Ekonomi Lokal
Upaya dekarbonisasi ASDP juga mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), terutama tujuan nomor 13 (Climate Action) dan tujuan nomor 17 (Partnerships for the Goals), melalui kolaborasi dengan BUMN lain seperti Pelindo.
Shelvy menegaskan, dekarbonisasi maritim adalah keharusan global, sejalan dengan kebijakan International Maritime Organization (IMO) yang menargetkan pelayaran internasional mencapai net-zero pada 2050.
“Sebagai operator penyeberangan terbesar di Indonesia, ASDP harus berada di garis depan untuk memastikan agenda dekarbonisasi ini berjalan,” katanya.
ASDP memastikan program hijau ini akan terus diperkuat hingga akhir tahun sebagai bagian dari roadmap keberlanjutan perusahaan. Sinergi antara regulator, operator, dan masyarakat diyakini mampu mempercepat terwujudnya maritim Indonesia yang hijau dan berdaya saing global.
(mc/ril)