
Foto: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Rembang
Mounture.com — Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, kembali menghadirkan kemeriahan Festival Thong-Thong Lek 2026, sebuah tradisi budaya khas masyarakat pesisir yang selalu dinanti setiap bulan Ramadan.
Kesenian ini bukan sekadar pertunjukan musik, tetapi juga menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Rembang yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Awalnya, Thong-Thong Lek berasal dari kebiasaan warga yang membangunkan sahur saat Ramadan. Pada masa lalu, masyarakat menggunakan alat sederhana seperti kentongan bambu, galon bekas, hingga berbagai peralatan rumah tangga yang menghasilkan bunyi khas “thong-thong”.
Seiring waktu, tradisi tersebut berkembang menjadi pertunjukan musik tradisional yang lebih terorganisir. Irama sederhana yang dulu dimainkan kini diolah menjadi aransemen yang dinamis dan penuh semangat.
BACA JUGA: 5 Hal yang Harus Dihindari Sebelum Mendaki Gunung, Jangan Sampai Abaikan Persiapan
Kini, Thong-Thong Lek tidak hanya dimainkan saat Ramadan untuk membangunkan sahur. Tradisi ini juga berkembang menjadi festival budaya tahunan yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah di Jawa Tengah, khususnya di Kabupaten Rembang.
Dalam festival tersebut, setiap kelompok peserta menampilkan berbagai kreativitas, mulai dari aransemen musik yang unik, koreografi menarik, hingga dekorasi kendaraan dorong yang dihias meriah.
Penampilan para peserta juga semakin semarak dengan kostum warna-warni dan konsep pertunjukan yang kreatif, sehingga menjadikan festival ini tidak hanya menarik bagi masyarakat lokal tetapi juga wisatawan.
Semangat kompetisi membuat para pemuda dan pemudi di Rembang berlomba-lomba menghadirkan pertunjukan terbaik tanpa meninggalkan unsur tradisionalnya.
BACA JUGA: Desa Wisata Sembungan, Desa Tertinggi di Pulau Jawa dengan Panorama Alam Dieng
Tradisi Thong-Thong Lek tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga mempererat hubungan sosial antarwarga.
Persiapan festival biasanya dilakukan secara gotong royong, mulai dari merancang alat musik, membuat kostum, hingga menyusun aransemen musik.
Selain itu, tradisi ini menjadi wadah bagi generasi muda untuk menyalurkan kreativitas sekaligus menjaga kecintaan terhadap budaya daerah di tengah arus modernisasi.
Ciri khas Thong-Thong Lek Rembang terletak pada dominasi alat musik perkusi sederhana dengan irama cepat dan penuh hentakan. Nuansa religius berpadu dengan semangat kebersamaan serta unsur humor yang kerap muncul dalam penampilan para peserta.
Bagi masyarakat yang ingin menyaksikan langsung kemeriahan tradisi ini, Festival Thong-Thong Lek Rembang 2026 akan digelar pada 17 Maret 2026 mulai pukul 20.00 WIB dengan rute yang dimulai dari Perempatan Zaeni dan finish di Gedung Haji Rembang.
Festival ini selalu menjadi agenda budaya yang dinanti masyarakat setiap tahun sekaligus menjadi daya tarik wisata budaya di Kabupaten Rembang.
Thong-Thong Lek menjadi bukti bahwa tradisi lokal dapat terus hidup dengan sentuhan kreativitas tanpa kehilangan jati dirinya.
Di tengah perkembangan zaman, gema bunyi “thong-thong” di Rembang tetap menjadi simbol kebersamaan, semangat generasi muda, serta kecintaan terhadap budaya warisan leluhur.
Bagi wisatawan yang ingin merasakan suasana Ramadan yang berbeda, menyaksikan Festival Thong-Thong Lek di Rembang bisa menjadi pengalaman budaya yang unik dan berkesan.
(mc/ril)






