Taman Nasional Kutai: Surga Petualangan Terakhir di Kalimantan Timur

Jembatan Gantung Sangkima TN Kutai

Foto: Wikipedia/Gunawan gtp

Mounture.com — Bukan tanpa alasan Taman Nasional Kutai (TNK) di Kalimantan Timur memiliki nilai strategis tinggi hingga menyandang predikat sebagai “Megaecological Infrastructure”, sebuah infrastruktur ekologis raksasa yang menopang kehidupan alam dan manusia.

Salah satu kekuatan utama Taman Nasional Kutai adalah formasi hutan ulin (Eusideroxylon zwageri) yang diakui sebagai yang terluas di Indonesia. Kayu besi legendaris Kalimantan ini tumbuh perlahan, kokoh, dan menjadi simbol ketahanan hutan hujan tropis dataran rendah.

Sebagai satu-satunya taman nasional di Provinsi Kalimantan Timur, Taman Nasional Kutai berperan penting sebagai:

– Water reservoir, penjaga tata air kawasan

– Genetic reservoir, penyimpan sumber daya genetik dan cadangan benih alami

– Habitat krusial bagi orangutan Kalimantan subspesies morio (Pongo pygmaeus morio) yang populasinya berada dalam kondisi kritis

Tak heran jika TN Kutai mengusung slogan “Discover the Secret of Borneo Lowland Rainforest”, sebuah ajakan untuk menjelajah hutan hujan dataran rendah Kalimantan yang semakin langka, sekaligus memahami kekayaan dan kerentanannya.

Bahkan, Lonely Planet, rujukan traveler dunia, merekomendasikan Taman Nasional Kutai sebagai destinasi wajib bagi pencinta alam dan petualangan.

BACA JUGA: Tersesat di Hutan? Ini 4 Rahasia Bertahan Hidup Hanya dengan Jam Tangan!

Prevab: Bertemu Orangutan Morio di Habitat Asli

Prevab merupakan objek wisata alam ikonik di Taman Nasional Kutai yang berada di tepi Sungai Sangatta, Kabupaten Kutai Timur. Lokasinya yang relatif tersembunyi justru menjadi daya tarik tersendiri.

Prevab dikenal sebagai habitat orangutan morio, subspesies orangutan yang hanya ditemukan di Kalimantan bagian timur. Dengan ciri bulu cokelat kehitaman, rahang besar, dan kemampuan bertahan hidup di kondisi ekstrem, morio menjadi magnet bagi wisatawan, khususnya wisatawan mancanegara.

Di kawasan ini terdapat Kamp Kakap, stasiun penelitian orangutan yang memperkuat fungsi Prevab sebagai pusat konservasi dan edukasi. Tak heran jika slogan kawasan ini adalah “Let’s Get Closer to Morio”.

Selain pengamatan orangutan, Prevab menawarkan hutan hujan tropis dataran rendah, pengamatan burung endemik seperti paok kepala-biru, serangga unik seperti lanternfly, serta wisata jelajah malam, termasuk observasi tarantula di habitat alaminya.

Sangkima: Petualangan di Negeri Ulin Raksasa

Berada di jalur Bontang–Sangatta KM 38, Sangkima menjadi kawasan wisata alam yang mudah diakses namun tetap menantang secara eksploratif.

Daya tarik utama Sangkima adalah pohon ulin raksasa berdiameter 2,49 meter yang diperkirakan berumur lebih dari 1.000 tahun, bahkan disebut sebagai ulin tertua di dunia. Karena itu, Sangkima dijuluki “The Wonder of Giant Ironwood”.

Pengunjung dapat menikmati boardwalk sepanjang ±900 meter, trek hutan ±4 km, jembatan gantung dan sling bridge, canopy trail dan rumah pohon, dan pengamatan satwa seperti kangkareng, srigunting, hingga sempidan biru.

BACA JUGA: SOP Pendakian Gunung Sedang Digodok, Ini Daftar 10 Kawasan Konservasi yang Terlibat

Bontang Mangrove Park: Oase Hijau di Kota Industri

Di tengah Kota Bontang yang dikenal sebagai kawasan industri, Bontang Mangrove Park hadir sebagai ruang alami yang menenangkan. Mengusung konsep konservasi, edukasi, dan rekreasi, kawasan ini menawarkan jalur titian kayu ulin sepanjang 2,5 km.

Pengunjung dapat mempelajari berbagai jenis mangrove sejati, menikmati kicauan burung, hingga menyaksikan aktivitas satwa liar seperti monyet ekor panjang dan burung air saat senja.

Dengan slogan “Feel the Breeze, Refresh Your Mind”, kawasan ini juga dilengkapi menara pandang, gazebo, aula berkapasitas besar, serta bumi perkemahan edukatif.

Gua Lubang Angin: Menyelami Karst Kandolo

Tak hanya hutan, Taman Nasional Kutai juga menyimpan potensi karst Kandolo dengan gua-gua eksotis. Gua Lubang Angin menjadi salah satu yang dapat dikunjungi wisatawan.

Untuk mencapainya, diperlukan perjalanan kaki hingga 4 jam saat musim hujan, sebuah tantangan yang sepadan dengan keindahan lorong gua sepanjang 219 meter, aliran sungai bawah tanah, serta stalagmit aktif yang masih tumbuh.

Selain Gua Lubang Angin, Gua Sampe Marta juga menawarkan petualangan penelusuran gua dengan medan sempit, air setinggi lutut, dan ornamen gua yang menuntut kehati-hatian.

Menjelajah Taman Nasional Kutai bukan sekadar wisata, tetapi juga pelajaran tentang menjaga jarak demi keberlanjutan. Setiap langkah di kawasan ini adalah pengingat bahwa petualangan terbaik adalah yang menghormati alam dan memberi ruang bagi ekosistem untuk tetap hidup.

(mc/ril)