Viral Penolakan Regulasi Pendakian Gunung Salak via Ajisaka

Gunung Salak – Foto: denubay.com

Mounture.com — Viral di media sosial terkait penolakan regulasi jalur pendakian Gunung Salak via Ajisaka. Dalam penolakan itu, ada ajakan untuk memboikot kegiatan pendakian Gunung Salak via Ajisaka.

Adapun penolakan itu disinyalir karena diterapkannya regulasi mengenai pendakian Gunung Salak via Ajisaka yang baru resmi dibuka pada 14 Juni 2024 lalu.

Regulasi itu dianggap tidak berpihak atau mementingkan pendaki, tetapi hanya menguntungkan pihak pengelola jalur pendakian Gunung Salak via Ajisaka.

“Kami tidak akan melakukan pendakian di Taman Nasional Gunung Halimun Salak via Ajisaka sebelum regulasi diubah,” demikian pernyataan penolakan regulasi pendakian Gunung Salak via Ajisaka dikutip dari akun instagram @ppt_adventure.

Lebih lanjut dikatakan, regulasi ada untuk kepentingan pendaki, regulasi ada untuk keamanan pendaki, regulasi ada untuk kenyamanan pendaki, tidak untuk korporasi, dan tidak untuk kepentingan sendiri.

“Rangkul pendaki, jangan mau dibodohi apalagi diperas,” tulis pernyataan tersebut.

Sikap Pengelola Jalur Pendakian Gunung Salak via Ajisaka

Dikutip dari Kumparan, Petugas Penanggung Jawab jalur Ajisaka, R. Surya Wijaya, menjelaskan regulasi itu dibuat setelah jalur Ajisaka pindah ke jalur lain dengan kondisi menyesuaikan lingkungan yang ada.

“Jalur Ajisaka masih ada, hanya pintu masuk rimbanya saja ada perubahan karena kondisi lingkungan,” ujarnya.

Soal penolakan oleh para pendaki, Surya Wijaya menyatakan bahwa aksi boikot yang ramai di media sosial itu hanyalah opini pribadi saja.

BACA JUGA:

Pendaki Wanita Takut Kusam saat Pendakian, Bawa Perlengkapan Ini

3 Agustus 2024, TN Gunung Merbabu Tutup Jalur Pendakian via Selo

Ia pun sudah mengetahui siapa yang membuat opini dan memprovokasi jalur Ajisaka. Ia menyebut, yang bersangkutan sering membawa open trip ke sana.

“Jadikan awalnya dari opini pribadi dan memprovokasi yang lain tentang regulasi, terutama yang membuat akun itu yang menurutnya merasa dirugikan,” jelas dia.

Lebih jauh, Surya, menjelaskan sebelum adanya regulasi ini para pendaki tidak mengikuti arahan dari para petugas lapangan. “Dengan kondisi fisik mereka itu tidak aware sama kondisi, lebih ke ikut-ikutan, seperti narasi dan komen mereka,” pungkasnya.

“Misalnya mereka menuduh melakukan pungli dan sebagianlah, apa-apa diduitin, padahal realita di lapangan tidak seperti itu,” sambungnya.

Regulasi, kata dia, dibuat untuk meringankan kinerja dari tim search and rescue (SAR) yang ada di jalur pendakian Ajisaka.

“Kalau soal regulasi ini kelompok kecil, mereka taat, turun masih sesuai waktu dan dengan adanya regulasi ini malah kami meminimalisir pekerjaan SAR,” kata dia.

Terkait uang deposit, Surya, mengatakan bahwa nantinya uang itu akan dikembalikan lagi kepada para pendaki. “Dengan adanya deposit yang viral, itu, kan, kami kembalikan sesuai dengan komitmen yang kita sampaikan,” lanjutnya.

Sedangkan untuk penggunaan kamera profesional mesti ada izin dari pimpinan terlebih dahulu.

“Sebenernya itu tidak jadi pertanyaan, kalaupun logika secara sederhana, walaupun di situ ada nominal, itu pun belum tentu kami izinkan,” tutupnya.

(mc/ls/ril)