SOP Pendakian Gunung Sedang Digodok, Ini Daftar 10 Kawasan Konservasi yang Terlibat

Briefing Pendakian

Mounture.com — Aktivitas pendakian gunung di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir terus menunjukkan peningkatan signifikan. Antusiasme masyarakat yang kian tinggi ini mendorong pengelola kawasan konservasi untuk memperkuat tata kelola keselamatan.

Salah satu langkah strategis yang kini tengah dilakukan adalah penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP) Pendakian di berbagai Taman Nasional.

Dikutip dari akun Instagram @ayoketamannasional_official, percepatan penyusunan SOP pendakian dilakukan karena jumlah pendaki yang semakin ramai, sehingga dibutuhkan standar keselamatan yang sama dan terukur di seluruh kawasan konservasi.

“Pendakian semakin ramai dan membutuhkan standar yang sama,” demikian disampaikan dalam unggahan tersebut.

BACA JUGA: Jangan Mendaki! Cuaca Ekstrem Sedang Melanda Indonesia

Keberadaan SOP pendakian diharapkan mampu memberikan pedoman yang jelas, baik bagi pengelola maupun pendaki. Beberapa tujuan utama penyusunan SOP pendakian antara lain:

– Penanganan keselamatan yang lebih cepat dan terukur

– Prosedur yang jelas, tertib, dan mudah diterapkan di lapangan

– Koordinasi petugas yang lebih solid, terutama saat kondisi darurat

– Meminimalkan risiko kecelakaan dan kesalahan prosedur

Dengan SOP yang seragam, setiap kawasan diharapkan memiliki standar penanganan yang tidak berbeda jauh, meski karakter medan dan cuaca tiap gunung berbeda.

Berdasarkan informasi dari Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan, Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan, saat ini terdapat 9 Taman Nasional (TN) dan 1 Taman Wisata Alam (TWA) yang tengah menyusun SOP pendakian.

Berikut daftarnya:

1. Taman Nasional Gunung Rinjani

2. Taman Nasional Gunung Gede Pangrango

3. Taman Nasional Gunung Ciremai

4. Taman Nasional Manusela

5. Taman Nasional Tambora

6. Taman Nasional Gunung Leuser

7. Taman Nasional Kerinci Seblat

8. Taman Wisata Alam Gunung Kelam

9. Taman Nasional Gunung Halimun Salak

10. Taman Nasional Gandang Dewata

Kawasan-kawasan tersebut dikenal sebagai destinasi favorit pendakian sekaligus memiliki karakter alam yang menantang, sehingga membutuhkan prosedur keselamatan yang matang dan terstandar.

BACA JUGA: Ukuran Jaket Tidak Pas? Ini 8 Solusi Praktis agar Tetap Nyaman dan Stylish

Bagi pendaki, SOP pendakian bukan sekadar aturan administratif. SOP menjadi acuan penting dalam banyak aspek, mulai dari alur registrasi, batas waktu pendakian, pengaturan kuota, hingga prosedur evakuasi darurat.

Seiring meningkatnya kasus kecelakaan dan evakuasi di gunung, keberadaan SOP diharapkan dapat membantu petugas bertindak lebih cepat dan tepat, sekaligus meningkatkan kesadaran pendaki untuk lebih disiplin dan bertanggung jawab terhadap keselamatan diri sendiri maupun lingkungan.

Penyusunan SOP pendakian ini menjadi sinyal bahwa pengelolaan aktivitas wisata alam, khususnya pendakian gunung, mulai diarahkan ke pola yang lebih profesional dan berkelanjutan.

Dengan standar yang jelas, diharapkan pengalaman mendaki di kawasan konservasi Indonesia tetap aman, tertib, dan selaras dengan upaya perlindungan alam.

Pendaki pun diimbau untuk terus mengikuti informasi resmi dari pengelola Taman Nasional serta mematuhi setiap aturan yang ditetapkan demi keselamatan bersama.

(mc/ril)