Desa Sidorejo Kembangkan Wellness Tourism Berbasis Budaya Jawa dan Teknologi AI

  • 7 October 2026 07:01

Wellness Tourism Desa Sidorejo

Mounture.com — Desa Sidorejo kini memasuki babak baru dalam pengembangan pariwisata dengan mengusung konsep wellness tourism berbasis budaya Jawa. Destinasi ini memadukan kekayaan warisan leluhur yang tersimpan di Museum Pawukon dengan pemanfaatan teknologi digital untuk meningkatkan pengelolaan desa wisata.

Pengembangan tersebut melibatkan Universitas Gadjah Mada (UGM) sebagai inisiator program pemberdayaan masyarakat dan Sanggabiz sebagai mitra teknologi serta konsultan bisnis.

Kolaborasi ini diarahkan untuk membangun ekosistem pariwisata berbasis komunitas yang tidak hanya menawarkan pengalaman budaya, tetapi juga memiliki tata kelola operasional yang lebih profesional.

Konsep wellness tourism di Desa Sidorejo mengangkat filosofi keseimbangan hidup yang terdapat dalam literasi Jawa, khususnya pengetahuan yang berkaitan dengan Pawukon.

Melalui pendekatan tersebut, wisatawan nantinya dapat menikmati pengalaman yang menggabungkan aspek kesehatan tubuh, ketenangan pikiran, budaya, serta kearifan lokal.

Museum Pawukon menjadi salah satu bagian penting dalam pengembangan wellness tourism di Desa Sidorejo. Pawukon merupakan sistem penanggalan tradisional Jawa yang memiliki berbagai nilai filosofis mengenai siklus waktu, karakter manusia, weton, serta hubungan manusia dengan alam semesta.

Potensi tersebut kemudian dikembangkan menjadi pengalaman wisata yang lebih personal. Wisatawan tidak hanya diajak melihat peninggalan budaya, tetapi juga dapat mengenal filosofi kehidupan masyarakat Jawa yang berkaitan dengan keseimbangan tubuh dan jiwa.

Pengalaman wellness tourism yang dikembangkan di Desa Sidorejo mencakup sejumlah aktivitas, mulai dari terapi kebugaran, relaksasi dan meditasi, hingga pengenalan racikan jamu atau pengobatan tradisional yang terinspirasi dari pengetahuan dalam manuskrip kuno.

Konsep tersebut membuat Desa Sidorejo memiliki pendekatan berbeda dibandingkan destinasi wisata pada umumnya. Budaya tidak hanya ditempatkan sebagai objek yang dilihat wisatawan, tetapi menjadi bagian dari pengalaman yang dapat dirasakan secara langsung.

BACA JUGA: Garuda Indonesia Dorong Turis Mancanegara Jelajahi Indonesia lewat Program Stopover

Pengembangan wellness tourism Desa Sidorejo tidak terlepas dari peran UGM melalui program pemberdayaan dan pengabdian kepada masyarakat.

UGM melihat adanya potensi budaya yang cukup besar di Desa Sidorejo, terutama yang berkaitan dengan Museum Pawukon. Namun, potensi tersebut membutuhkan penguatan dari sisi tata kelola agar dapat dikembangkan menjadi produk pariwisata yang mampu menjangkau wisatawan secara lebih luas.

Melalui program inkubasi dan pemberdayaan komunitas, UGM kemudian mendorong penyusunan cetak biru pengembangan wellness tourism yang berkelanjutan.

Dalam implementasinya, UGM menggandeng Sanggabiz yang merupakan startup binaan ekosistem UGM. Sanggabiz berperan dalam menyediakan teknologi dan pendampingan bisnis untuk membantu pengelola desa wisata melakukan transformasi digital.

Kolaborasi tersebut diharapkan dapat menjembatani kekayaan budaya lokal dengan kebutuhan industri pariwisata modern yang semakin mengandalkan teknologi.

Salah satu tantangan yang ingin dijawab melalui program ini adalah pengelolaan operasional desa wisata yang sebelumnya masih banyak dilakukan secara konvensional dan manual.

Untuk itu, Sanggabiz menghadirkan solusi Department as a Service berbasis kecerdasan buatan (AI) yang dirancang untuk membantu pengelolaan berbagai aktivitas operasional.

Salah satu sistem yang disiapkan adalah Digital Booking. Sistem tersebut memungkinkan proses reservasi dilakukan secara digital dan real-time sehingga pengelola dapat mengatur jadwal kunjungan dengan lebih terstruktur sekaligus mengurangi risiko bentroknya jadwal wisatawan.

Digitalisasi juga diterapkan pada proses transaksi melalui Smart POS. Sistem ini menggantikan sebagian proses pencatatan manual dengan sistem kasir digital yang dapat membantu mempercepat transaksi sekaligus menghasilkan rekap keuangan secara otomatis.

Dengan sistem tersebut, pengelola desa wisata diharapkan dapat memperoleh data operasional yang lebih rapi dan terukur. Data tersebut nantinya dapat digunakan sebagai dasar untuk mengevaluasi layanan maupun mengembangkan produk wisata sesuai kebutuhan pengunjung.

BACA JUGA: Puncak Sempur Karawang: Wisata Alam Dekat Jakarta untuk Menikmati Senja dan Camping

Pengembangan Desa Sidorejo menunjukkan bagaimana warisan budaya lokal dapat dikombinasikan dengan teknologi tanpa menghilangkan identitas yang menjadi daya tarik utamanya.

Nilai-nilai yang terdapat dalam manuskrip Pawukon menjadi fondasi pengalaman wellness tourism, sedangkan teknologi digital digunakan untuk memperkuat sisi pengelolaan dan pelayanan wisatawan.

Pendekatan tersebut juga sejalan dengan perkembangan tren pariwisata yang semakin mengarah pada pengalaman personal, kesehatan, kebugaran, serta pencarian ketenangan dan keseimbangan hidup.

Dengan dukungan UGM dan Sanggabiz, Desa Sidorejo diharapkan dapat membangun model pariwisata berbasis komunitas yang mampu mengoptimalkan potensi budaya sekaligus meningkatkan profesionalisme pengelolaannya.

Jika dikembangkan secara konsisten, perpaduan antara Museum Pawukon, kearifan lokal Jawa, layanan wellness, dan teknologi digital berpotensi menjadikan Desa Sidorejo sebagai salah satu destinasi wellness tourism Indonesia yang menawarkan pengalaman berbeda dan autentik.

(mc/ns)