
Foto: jadesta.kemenpar.go.id
Mounture.com — Bali selama ini identik dengan pantai, pura, dan berbagai destinasi wisata di kawasan selatan. Namun, Pulau Dewata juga memiliki sejumlah destinasi yang menawarkan suasana berbeda, salah satunya Desa Jatiluwih Bali.
Desa Jatiluwih merupakan salah satu desa wisata yang berada di Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan. Berada di kawasan dataran tinggi, desa ini menawarkan panorama persawahan terasering, suasana pedesaan yang sejuk, serta kehidupan masyarakat Bali yang masih erat dengan tradisi dan budaya setempat.
Keberadaan persawahan dengan sistem irigasi Subak menjadi salah satu daya tarik utama Jatiluwih. Kawasan ini bahkan menjadi bagian dari lanskap budaya Bali yang mendapatkan pengakuan UNESCO.
Tak hanya pemandangan sawah, Jatiluwih juga memiliki sejumlah keunikan lain yang membuatnya menarik untuk dikunjungi. Dikutip dari laman Kementerian Pariwisata, berikut 5 keunikan Desa Jatiluwih Bali yang perlu diketahui.
1. Berada di Lereng Gunung Batukaru
Salah satu keunikan Desa Jatiluwih adalah lokasinya yang berada di kawasan dataran tinggi Bali. Desa ini berada di Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, tepatnya di lereng Gunung Batukaru. Kawasan Jatiluwih berada pada ketinggian sekitar 600-700 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Lokasi tersebut membuat suasana Jatiluwih berbeda dengan destinasi wisata Bali yang berada di kawasan pesisir. Udara yang relatif sejuk berpadu dengan panorama perbukitan dan persawahan yang membentang luas.
Dari kawasan desa, wisatawan juga dapat menikmati lanskap Gunung Batukaru. Dengan ketinggian mencapai sekitar 2.276 mdpl, gunung tersebut merupakan salah satu gunung tertinggi di Bali.
Karakter tersebut membuat wisata Jatiluwih Tabanan cocok bagi wisatawan yang ingin menikmati sisi lain Pulau Dewata, terutama suasana pedesaan dan pegunungan.
2. Memiliki Persawahan Subak yang Diakui UNESCO
Daya tarik utama Jatiluwih tentu saja tidak bisa dilepaskan dari hamparan sawah terasering yang membentang di kawasan desa. Namun, persawahan Jatiluwih bukan sekadar menawarkan pemandangan hijau. Kawasan ini menjadi bagian dari lanskap budaya Bali yang menerapkan sistem irigasi tradisional Subak.
Subak merupakan sistem pengelolaan irigasi masyarakat Bali yang tidak hanya berkaitan dengan distribusi air untuk pertanian, tetapi juga memiliki keterkaitan erat dengan kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat.
Sistem Subak tersebut menjadi bagian dari filosofi Tri Hita Karana, yang menekankan hubungan harmonis antara manusia, alam, dan aspek spiritual. Keunikan tersebut membuat lanskap budaya Bali yang mencakup kawasan persawahan Jatiluwih ditetapkan sebagai Warisan Budaya Dunia UNESCO pada 2012.
Karena itu, ketika wisatawan menikmati pemandangan sawah di Jatiluwih, yang dilihat bukan hanya hamparan tanaman padi, tetapi juga sebuah sistem pengelolaan pertanian yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Bali selama berabad-abad.
BACA JUGA: Menyusuri Sungai Sekonyer dengan Klotok, Gerbang Petualangan ke Tanjung Puting
3. Nama Jatiluwih Memiliki Makna Filosofis
Keunikan lainnya terdapat pada asal-usul nama Jatiluwih. Menurut cerita yang berkembang di masyarakat setempat, nama Jatiluwih berasal dari kata Jaton dan Luwih. Jaton memiliki makna yang berkaitan dengan jimat, sedangkan luwih berarti baik atau bagus.
Secara sederhana, nama tersebut dapat dimaknai sebagai sesuatu yang memiliki keistimewaan atau kebaikan. Makna tersebut kemudian dikaitkan dengan kondisi alam Jatiluwih yang subur dan mampu memberikan hasil bumi bagi masyarakat.
Hamparan sawah, sumber air, serta aktivitas pertanian menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat desa. Karena itu, kesuburan alam dapat dipandang sebagai salah satu kekayaan utama Jatiluwih.
4. Punya Beras Merah Jatiluwih
Selain terkenal dengan pemandangan sawahnya, Jatiluwih juga dikenal dengan produk pertanian berupa beras merah. Beras merah Jatiluwih menjadi salah satu hasil bumi yang dikembangkan masyarakat setempat. Produk tersebut menjadi bagian dari potensi pertanian sekaligus identitas desa.
Bagi wisatawan, keberadaan produk lokal seperti beras merah memberikan pengalaman berbeda. Perjalanan ke Jatiluwih tidak hanya memberikan kesempatan menikmati pemandangan, tetapi juga mengenal hasil pertanian dan kehidupan masyarakat di kawasan tersebut.
Pengembangan produk lokal juga dapat menjadi bagian dari upaya memberikan manfaat ekonomi pariwisata kepada masyarakat setempat.
5. Dinobatkan sebagai Best Tourism Village 2024
Keunikan Jatiluwih semakin mendapat perhatian setelah desa wisata ini masuk dalam daftar Best Tourism Villages 2024 yang diumumkan oleh UN Tourism. Pengakuan tersebut menjadi salah satu pencapaian penting bagi Jatiluwih sekaligus pariwisata Indonesia.
Penghargaan Best Tourism Villages merupakan bagian dari program UN Tourism yang memberikan perhatian terhadap desa-desa yang memiliki potensi pariwisata sekaligus mengedepankan pelestarian lingkungan, budaya, serta pengembangan masyarakat lokal.
Bagi Jatiluwih, kekuatan tersebut tercermin melalui kombinasi antara lanskap persawahan, sistem Subak, budaya masyarakat, produk pertanian, serta pengembangan pariwisata berbasis desa.
Dengan berbagai keunikan tersebut, Desa Jatiluwih Bali menawarkan pengalaman yang berbeda dari wisata pantai yang selama ini menjadi salah satu ikon Pulau Dewata.
Wisatawan dapat menikmati panorama persawahan terasering, mengenal sistem Subak, melihat kehidupan pertanian masyarakat, sekaligus merasakan suasana sejuk di kawasan lereng Gunung Batukaru.
Jatiluwih pun menjadi contoh bahwa daya tarik wisata Bali tidak hanya berada di kawasan pesisir, tetapi juga tumbuh dari alam, budaya, pertanian, dan kehidupan masyarakat desa.
(mc/mg)





