Jangan Panik! Ini yang Harus Dilakukan Pendaki Saat Terjebak Karhutla

Pemadaman karhutla di Gunung Lawu dengan helikopter – Foto: Antara Foto/Siswowidodo

Mounture.com — Memasuki musim kemarau, risiko terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) cenderung meningkat. Kondisi vegetasi yang lebih kering membuat api dapat menyebar dengan cepat, terutama di kawasan hutan dan pegunungan.

Situasi tersebut perlu menjadi perhatian bagi para pendaki yang melakukan aktivitas di alam terbuka. Selain mempersiapkan perlengkapan pendakian, pendaki juga perlu memahami cara menghadapi karhutla saat mendaki untuk mengurangi risiko terpapar asap maupun terjebak dalam kobaran api.

Karhutla dapat berubah menjadi situasi berbahaya dalam waktu singkat. Asap tebal bisa mengganggu jarak pandang dan pernapasan, sementara arah serta kecepatan penyebaran api dapat berubah mengikuti kondisi angin dan medan.

Karena itu, pendaki perlu melakukan penilaian situasi secara cepat dan mengutamakan keselamatan. Berikut sejumlah langkah yang perlu diperhatikan saat menghadapi kebakaran hutan ketika sedang mendaki.

BACA JUGA: Gunung Lembu Purwakarta: Gunung 780 Mdpl dengan Panorama Waduk Jatiluhur

Cara Menghadapi Asap Kebakaran Saat Mendaki

Asap merupakan salah satu ancaman awal yang bisa dirasakan ketika terjadi kebakaran hutan. Paparan asap tidak hanya mengganggu jarak pandang, tetapi juga dapat membuat pendaki kesulitan bernapas.

1. Perhatikan ketebalan asap dan abu

Perhatikan paparan asap dan abu di sekitar jalur pendakian. Semakin pekat asap yang terlihat, semakin besar kemungkinan kebakaran berada dalam kondisi serius atau semakin dekat dengan lokasi pendaki.

Jangan menganggap remeh perubahan kondisi tersebut. Jika asap mulai mengganggu pernapasan dan jarak pandang, segera evaluasi posisi dan cari jalur evakuasi yang paling aman.

2. Waspadai asap yang berkumpul di daerah rendah

Pendaki juga perlu mewaspadai endapan asap di lembah atau cekungan, terutama pada malam hari.

Asap dapat berkumpul di area rendah sehingga konsentrasinya menjadi lebih tinggi. Oleh sebab itu, jangan menjadikan lembah atau cekungan sebagai tempat berlindung tanpa terlebih dahulu memastikan kondisi udara dan keamanan kawasan tersebut.

3. Segera evakuasi jika kondisi udara memburuk

Perubahan warna langit juga dapat menjadi salah satu tanda kondisi kebakaran yang perlu diwaspadai.

Jika langit mulai terlihat oranye kekuningan hingga merah dan asap semakin pekat, kondisi kualitas udara dapat memburuk. Jangan menunggu hingga situasi menjadi lebih parah.

Segera lakukan evakuasi mengikuti jalur yang aman dan menjauh dari sumber kebakaran.

BACA JUGA: Kuota Pendakian Rinjani 15-17 Agustus 2026 Penuh, TNGR Tambah Patroli

Cara Menghadapi Nyala Api Saat Mendaki

Jika sudah melihat nyala api secara langsung, situasinya jauh lebih serius. Pendaki harus segera mengambil keputusan untuk menjauh dari area kebakaran dan mencari lokasi yang lebih aman.

1. Jangan bergerak membelakangi api

Ketika melihat kobaran api, jangan langsung berlari tanpa memperhatikan arah pergerakannya.

Jangan lari membelakangi api tanpa mengetahui arah angin dan jalur aman. Api dapat bergerak cepat mengikuti angin. Bergeraklah menjauh dari sumber api menuju area yang lebih aman dan, jika tersedia, ikuti arahan petugas atau jalur evakuasi resmi.

2. Hindari bergerak menuju puncak bukit

Hindari bergerak menuju puncak atau bagian atas bukit ketika kebakaran sedang berlangsung.

Api dapat bergerak cepat menanjak sehingga area yang lebih tinggi belum tentu lebih aman. Jika kondisi memungkinkan, cari jalur keluar menuju sisi lain bukit yang aman dan memiliki akses evakuasi.

3. Jangan menjadikan area terbakar sebagai pilihan utama

Area yang sudah terbakar memang memiliki lebih sedikit bahan bakar, tetapi bukan berarti otomatis aman untuk dilalui.

Jika harus melewati area terdampak, pastikan kondisi benar-benar aman dan api tidak lagi aktif. Waspadai bara yang masih menyala, tanah panas, asap, serta kemungkinan api kembali menyebar.

Jangan mengambil risiko hanya karena melihat vegetasi di suatu area sudah habis terbakar.

4. Cari area terbuka dengan vegetasi minim

Jika memungkinkan, bergerak menuju area terbuka dengan sedikit vegetasi dan jauh dari sumber api.

Tetap waspadai pohon yang terbakar atau telah melemah karena dapat tumbang sewaktu-waktu. Selain itu, perhatikan abu panas, bara, dan material yang masih terbakar di sekitar jalur.

Dalam kondisi karhutla, keselamatan harus menjadi prioritas utama. Pendaki tidak perlu memaksakan perjalanan atau berusaha menyelesaikan pendakian ketika kondisi kawasan sudah tidak aman.

Jika mendapatkan informasi mengenai penutupan jalur pendakian akibat karhutla, ikuti instruksi pengelola kawasan dan petugas. Jangan menerobos jalur yang telah ditutup demi melanjutkan perjalanan.

Sebelum mendaki pada musim kemarau, pendaki juga sebaiknya mengecek status jalur, prakiraan cuaca, potensi kebakaran, serta informasi terbaru dari pengelola gunung atau pihak berwenang.

Yang terpenting, jangan panik ketika menghadapi kebakaran. Kenali situasi, jauhi sumber api, hindari area dengan asap pekat, dan segera lakukan evakuasi menuju lokasi yang dinyatakan aman.

Pendakian bisa ditunda, keselamatan tidak bisa digantikan.

(mc/ns)