Sejarah Taman Nasional Gunung Merbabu: Perjalanan Panjang hingga Menjadi Kawasan Konservasi

Foto: instagram @ayoketamannasional_official/Gama

Mounture.com — Taman Nasional Gunung Merbabu (TNGMb) tidak hanya dikenal sebagai destinasi favorit para pendaki, tetapi juga memiliki sejarah panjang dalam upaya perlindungan hutan dan keanekaragaman hayati di Pulau Jawa.

Statusnya sebagai kawasan konservasi merupakan hasil perjalanan selama puluhan tahun, bahkan telah dimulai sejak masa pemerintahan Hindia Belanda.

Dikutip dari laman Direktorat Jenderal KSDAE, disebutkan bahwa saat ini, Taman Nasional Gunung Merbabu menjadi salah satu kawasan konservasi penting di Jawa Tengah yang berfungsi menjaga sumber mata air, habitat flora dan fauna, sekaligus menjadi tujuan wisata alam yang populer.

Sejarah kawasan Gunung Merbabu bermula pada awal abad ke-20. Pemerintah Hindia Belanda menetapkan sebagian kawasan hutan di wilayah Magelang, Boyolali, dan Semarang sebagai hutan tutupan maupun hutan lindung.

Penetapan tersebut dilakukan secara bertahap, mulai tahun 1900, 1908, 1915, hingga 1930. Tujuannya adalah menjaga fungsi hutan sebagai kawasan perlindungan lingkungan di lereng Gunung Merbabu.

BACA JUGA: Masih Ragu Solo Traveling? Ini 5 Alasan Perempuan Harus Berani Mencobanya

Memasuki era setelah kemerdekaan, pengelolaan kawasan hutan mengalami beberapa kali perubahan. Pada periode 1959–1963, kawasan berada di bawah Dinas Kehutanan daerah.

Selanjutnya, pengelolaannya diserahkan kepada Perusahaan Negara Perhutani, kemudian berubah menjadi Perum Perhutani melalui Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Magelang dan Surakarta.

Pada tahun 1975–1985, kawasan Gunung Merbabu banyak ditanami Pinus merkusii sebagai bagian dari fungsi perlindungan sekaligus produksi hasil hutan.

Dalam periode ini, masyarakat juga mulai dilibatkan melalui sistem tumpangsari dan cemplongan. Sebagian kawasan bahkan ditetapkan sebagai objek wisata alam karena memiliki panorama air terjun yang indah

Upaya menjadikan Gunung Merbabu sebagai kawasan konservasi mulai menguat pada awal tahun 2000-an.

Melalui usulan Direktorat Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam (PHPA), kawasan hutan lindung dan Taman Wisata Alam di Gunung Merbabu akhirnya ditetapkan sebagai Taman Nasional Gunung Merbabu melalui Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 135/Menhut-II/2004 pada 4 Mei 2004 dengan luas sekitar 5.725 hektare.

Selanjutnya, pada tahun 2014 status hukum kawasan diperkuat melalui penetapan kawasan seluas 5.820,49 hektare yang mencakup wilayah Kabupaten Magelang, Boyolali, dan Semarang.

BACA JUGA: Berapa Jumlah Kawah Gunung Ciremai? Ini Fakta Dua Kawah Ganda dan Bahaya Turun ke Dasar Kawah

Salah satu keunikan Taman Nasional Gunung Merbabu adalah keberadaan ekosistem sabana yang membentang pada ketinggian sekitar 1.500 hingga 3.000 meter di atas permukaan laut.

Hamparan sabana inilah yang menjadi ikon Gunung Merbabu dan membuatnya berbeda dibanding banyak gunung lain di Pulau Jawa.

Selain memiliki lanskap yang indah, Taman Nasional Gunung Merbabu juga menjadi habitat berbagai satwa liar yang memiliki nilai konservasi tinggi.

Pembentukan kawasan konservasi ini bertujuan menjaga fungsi hidrologi sekaligus melindungi keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya.

Beberapa spesies prioritas yang hidup di kawasan TNG Merbabu antara lain Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), Celepuk Jawa (Otus angelinae), Macan tutul Jawa (Panthera pardus melas), dan Rek-rekan atau Surili Jawa (Presbytis comata fredericae).

Di antara satwa tersebut, rek-rekan menjadi salah satu primata endemik yang paling istimewa. Satwa ini hidup berkelompok di kawasan hutan pegunungan Gunung Merbabu dan menjadi salah satu fokus utama program perlindungan taman nasional.

Keberadaan Taman Nasional Gunung Merbabu bukan hanya penting bagi kelestarian flora dan fauna, tetapi juga berperan sebagai daerah tangkapan air bagi masyarakat di sekitarnya.

Melalui pengelolaan kawasan konservasi, pemerintah berupaya menjaga fungsi ekologis Gunung Merbabu sekaligus mengembangkan pemanfaatan wisata alam secara berkelanjutan sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh generasi sekarang maupun mendatang.

(mc/mg)