
Mounture.com — Kemampuan bertahan hidup atau survival menjadi salah satu keterampilan penting yang sebaiknya dimiliki oleh setiap pendaki gunung dan pecinta kegiatan alam bebas. Sebab, kondisi darurat bisa terjadi kapan saja, mulai dari tersesat, kehabisan logistik, hingga terpisah dari rombongan.
Dalam situasi seperti itu, mengetahui cara menemukan sumber makanan darurat menjadi sangat penting. Salah satu sumber makanan yang kerap ditemukan di alam adalah tumbuhan liar. Namun, tidak semua tumbuhan aman untuk dikonsumsi karena beberapa di antaranya mengandung racun yang berbahaya bagi tubuh.
Oleh karena itu, pendaki perlu memahami cara sederhana untuk mengenali tumbuhan liar yang berpotensi layak dimakan ketika berada dalam kondisi survival. Berikut beberapa langkah yang bisa dilakukan.
1. Pisahkan Tanaman Berdasarkan Bagiannya
Langkah pertama adalah memisahkan tanaman menjadi beberapa bagian, seperti akar, batang, daun, bunga, atau buah. Pengujian harus dilakukan pada satu bagian terlebih dahulu dan tidak langsung pada seluruh bagian tanaman.
Hal ini penting karena ada beberapa jenis tumbuhan yang memiliki bagian tertentu yang aman dimakan, sementara bagian lainnya justru beracun.
2. Cium Aroma Tanaman
Sebelum melakukan pengujian lebih lanjut, coba hirup aroma dari bagian tanaman yang akan diuji.
Jika tanaman mengeluarkan aroma yang sangat menyengat, tidak sedap, atau tercium seperti bahan kimia tertentu, sebaiknya hindari untuk mengonsumsinya. Aroma yang tidak biasa dapat menjadi indikasi adanya kandungan zat yang berpotensi berbahaya.
BACA JUGA: 7 Hal yang Dilarang Saat Mendaki Gunung, Nomor 5 Masih Sering Dilanggar
3. Uji pada Kulit
Langkah berikutnya adalah melakukan uji kontak pada kulit.
Tempelkan potongan kecil tanaman pada bagian dalam siku atau pergelangan tangan selama beberapa menit. Setelah itu, amati apakah muncul reaksi seperti rasa terbakar, gatal, kemerahan, mati rasa, atau iritasi.
Apabila muncul salah satu reaksi tersebut, tanaman sebaiknya tidak dikonsumsi.
4. Siapkan Porsi Kecil untuk Diuji
Jika tidak ada reaksi pada kulit, siapkan porsi kecil dari bagian tanaman yang akan diuji.
Bila memungkinkan, rebus terlebih dahulu sebelum dikonsumsi. Proses pemasakan dapat membantu mengurangi risiko kontaminasi bakteri maupun zat tertentu yang mungkin terkandung pada tanaman.
5. Lakukan Uji pada Bibir dan Mulut
Sentuhkan sedikit bagian tanaman ke bibir dan tunggu sekitar 15 menit.
Jika tidak muncul rasa terbakar, gatal, atau reaksi lain, lanjutkan dengan menggigit sedikit bagian tanaman tersebut. Kunyah perlahan dan tahan di dalam mulut selama kurang lebih 15 menit tanpa langsung menelannya.
Tahapan ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada reaksi negatif sebelum tanaman masuk ke sistem pencernaan.
BACA JUGA: Sulit Dapat Restu Orang Tua untuk Mendaki Gunung? Coba 8 Tips Ini
6. Telan dan Amati Reaksi Tubuh
Jika tidak muncul rasa pahit yang kuat, rasa seperti sabun, sensasi terbakar, atau gejala aneh lainnya, tanaman dapat ditelan dalam jumlah sangat kecil.
Setelah itu, tunggu setidaknya satu jam sambil memperhatikan kondisi tubuh. Jika tidak muncul gejala seperti mual, muntah, pusing, kram perut, atau reaksi lainnya, bagian tanaman tersebut dapat diasumsikan relatif aman untuk dikonsumsi dalam kondisi darurat.
7. Ulangi pada Bagian Tanaman Lain
Perlu diingat bahwa hasil pengujian pada satu bagian tanaman tidak selalu berlaku untuk bagian lainnya.
Karena itu, jika ingin mengonsumsi bagian tanaman yang berbeda, lakukan kembali seluruh tahapan pengujian dari awal. Beberapa jenis tumbuhan memiliki akar yang dapat dimakan, tetapi daunnya beracun, atau sebaliknya.
Metode ini merupakan prosedur survival darurat yang digunakan ketika tidak tersedia sumber makanan lain dan identifikasi tanaman tidak dapat dilakukan secara pasti.
Cara paling aman tetaplah mengonsumsi tanaman yang sudah dikenal dan terbukti aman. Sebelum melakukan pendakian, pendaki juga disarankan membawa logistik yang cukup serta mempelajari dasar-dasar survival di alam bebas untuk mengantisipasi berbagai kondisi darurat.
Dengan bekal pengetahuan yang memadai, peluang bertahan hidup di alam bebas akan semakin besar ketika menghadapi situasi yang tidak terduga.
(mc/pd)





