
Ilustrasi – Foto: Mounture.com
Mounture.com — Pengalaman misterius ini terjadi sekitar tahun 2008, saat seorang pelajar mengikuti kegiatan pendakian bersama pembina pramuka di salah satu SMA Negeri di Jakarta menuju Gunung Gede Pangrango melalui jalur Gunung Putri.
Sebelum keberangkatan, seluruh peserta telah mendapatkan pembekalan selama tiga hari, mulai dari pengetahuan jalur, estimasi waktu perjalanan, hingga persiapan logistik.
Rombongan yang berjumlah sekitar 30 orang kemudian dibagi menjadi tiga kelompok, masing-masing didampingi oleh senior yang berperan sebagai pemandu, tim medis, hingga sweeper.
Pendakian dimulai sekitar pukul 14.00 WIB setelah registrasi. Perjalanan awal terasa ringan, meski jalur berbatu dan mulai memasuki kawasan hutan.
Saat tiba di Pos 1, rombongan sempat beristirahat. Suasana pos yang tampak tak terurus sempat menimbulkan kesan angker, namun karena dilakukan secara berkelompok, suasana tetap cair dengan canda khas anak sekolah.
BACA JUGA: 24 Gunung Api Indonesia Status Waspada 2026, Ini Daftarnya! Ada Bromo hingga Rinjani
Memasuki Pos 3 sekitar pukul 16.00 WIB, salah satu anggota mengalami cedera kaki. Setelah berdiskusi melalui komunikasi HT, tim senior memutuskan untuk mengevakuasi korban turun menggunakan tandu.
Keputusan ini membuat formasi kelompok berubah. Tim yang awalnya didampingi 4–5 senior, kini hanya didampingi dua orang, yakni ketua kelompok dan tim medis.
Memasuki malam hari, suasana pendakian mulai berubah. Saat tiba di Pos 4, rombongan beristirahat dan tiba-tiba melihat dua wanita melintas tanpa menyapa.
Ciri-ciri mereka cukup mencolok yakni satu membawa carrier berwarna merah, satu lainnya membawa daypack biru, dan keduanya berjalan tanpa menatap atau merespons.
Keanehan mulai terasa ketika beberapa saat kemudian, kedua wanita tersebut tiba-tiba menghilang tanpa jejak, padahal jalur yang dilalui cukup terbuka.
Tidak lama setelah melanjutkan perjalanan, cahaya senter justru kembali menangkap keberadaan dua wanita tersebut di sisi jalur, seolah sedang beristirahat di tempat yang tidak lazim.
Namun saat rombongan mendekat, mereka tetap diam, tidak menunjukkan wajah, bahkan tidak merespons sapaan dari senior.
Kejadian serupa terulang beberapa kali. Setiap kali rombongan berhenti, sosok tersebut muncul kembali dari arah belakang, lalu menghilang tanpa jejak saat perjalanan dilanjutkan.
BACA JUGA: Tips Perawatan Kulit untuk Pendaki Perempuan, Tetap Sehat Meski Terpapar Matahari di Gunung
Menjelang tiba di kawasan Alun-Alun Surya Kencana, rombongan melewati area yang menyerupai gapura alami.
Di titik inilah salah satu peserta melihat sosok wanita tersebut berdiri di dalam hutan, menghadap ke arah puncak. Siluetnya terlihat samar di antara vegetasi yang rapat.
Namun saat rombongan memasuki area camp, kedua wanita itu kembali menghilang.
Keesokan harinya, rombongan melanjutkan perjalanan menuju puncak. Namun, sosok dua wanita misterius itu tidak pernah terlihat lagi, baik di jalur maupun di puncak.
Hal yang menjadi tanda tanya besar adalah mengapa mereka selalu muncul di titik tertentu? Mengapa tidak pernah merespons?, dan bagaimana mereka bisa menghilang begitu saja di jalur yang sama?
Kisah ini menjadi salah satu cerita misteri pendakian yang hingga kini masih sulit dijelaskan secara logis.
Apakah mereka pendaki lain yang berjalan sangat cepat? Atau justru sosok yang tak kasat mata?
Pengalaman ini menjadi pengingat bahwa mendaki gunung bukan hanya soal fisik dan mental, tetapi juga tentang menjaga sikap, etika, dan kewaspadaan di alam bebas.
(mc/pd)
Tulisan ini sudah diterbitkan sebelumnya yang berasal dari kiriman email haratour4615@gmail.com dan telah disunting ulang oleh redaksi.





