5 Risiko Mendaki Gunung yang Perlu Diketahui Pendaki, dari Hipotermia hingga Keracunan

Terkilir saat Mendaki Gunung

Mounture.com — Mendaki gunung menjadi salah satu aktivitas alam bebas yang semakin digemari banyak orang. Selain menawarkan keindahan alam dan pengalaman petualangan, kegiatan ini juga memberikan tantangan fisik serta mental bagi para pendaki.

Namun di balik pesona alamnya, mendaki gunung memiliki risiko yang tidak bisa dianggap sepele. Risiko tersebut bisa terjadi kapan saja, mulai dari cedera ringan hingga kondisi yang membahayakan jiwa.

Karena itu, setiap pendaki disarankan untuk melakukan persiapan yang matang sebelum melakukan pendakian, mulai dari kondisi fisik, perlengkapan, hingga pengetahuan mengenai potensi bahaya di gunung.

Berikut beberapa risiko yang bisa menimpa pendaki gunung, dirangkum dari berbagai sumber. Meski demikian, sebagian besar risiko ini dapat diminimalkan dengan persiapan yang baik serta tetap mengutamakan kewaspadaan selama perjalanan.

BACA JUGA: Radius Bahaya Gunung Slamet Diperluas Jadi 3 Km, Warga dan Pendaki Diminta Tidak Mendekat

1. Hipotermia

Hipotermia merupakan salah satu kondisi yang paling ditakuti oleh para pendaki gunung.

Hipotermia terjadi ketika suhu tubuh menurun secara drastis akibat paparan suhu dingin, terutama di daerah pegunungan dengan cuaca ekstrem.

Gejala yang biasanya muncul antara lain tubuh menggigil, kebingungan, lemah dan sulit bergerak, serta penurunan kesadaran.

Hipotermia sendiri terbagi dalam tiga tahap, yaitu ringan, sedang, dan berat. Jika tidak segera ditangani, kondisi ini dapat berakibat fatal bagi pendaki.

2. AMS (Acute Mountain Sickness)

AMS (Acute Mountain Sickness) atau sering disebut mabuk gunung merupakan gangguan kesehatan yang umum dialami pendaki ketika berada di ketinggian. Gejala ringan AMS biasanya mulai dirasakan pada ketinggian sekitar 1.200 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Beberapa gejala AMS antara lain pusing, mual hingga muntah, napas terasa pendek, mudah lelah, hilang nafsu makan, sulit tidur, dan cenderung menyendiri.

Pada umumnya AMS tidak berakibat fatal jika segera ditangani dengan cara beristirahat dan menurunkan aktivitas. Namun jika diabaikan, kondisi ini dapat berkembang menjadi gangguan yang lebih serius.

BACA JUGA: Panduan Jalur Pendakian Gunung Slamet: Bambangan, Dipajaya, hingga Baturaden

3. Hipoglikemi

Hipoglikemi adalah kondisi ketika kadar gula dalam darah turun di bawah batas normal. Kondisi ini bisa terjadi pada pendaki yang kurang asupan makanan atau terlalu lelah selama perjalanan.

Gejala hipoglikemi meliputi mudah lelah, kebingungan, jantung berdebar, tremor atau gemetar, berkeringat berlebihan, rasa lapar yang kuat, serta kesemutan. Dalam kondisi yang lebih parah, hipoglikemi dapat menyebabkan kejang hingga hilangnya kesadaran.

4. Terkilir

Cedera seperti terkilir atau keseleo juga cukup sering dialami pendaki, terutama ketika melewati jalur yang licin, berbatu, atau curam.

Terkilir terjadi akibat hentakan pada sendi dengan arah yang salah, sehingga jaringan pengikat antar tulang dan otot mengalami cedera. Gejalanya biasanya berupa pembengkakan pada sendi, nyeri saat bergerak, dan memar akibat pendarahan di bawah kulit.

Cedera ini umumnya terjadi karena kurang berhati-hati saat melangkah atau kehilangan keseimbangan ketika trekking.

5. Keracunan

Keracunan juga menjadi salah satu risiko yang bisa terjadi saat mendaki gunung. Hal ini biasanya terjadi ketika pendaki mengonsumsi tanaman atau makanan liar di alam bebas tanpa mengetahui apakah aman untuk dimakan atau tidak.

Beberapa tanaman liar di pegunungan memiliki kandungan racun yang berbahaya bagi tubuh. Karena itu, pendaki sangat disarankan tidak sembarangan memakan tumbuhan atau buah yang ditemukan di alam.

(mc/pd)