
Mounture.com — Gunung tidak pernah memilih siapa yang boleh menapaki jalurnya. Ia terbuka bagi siapa saja yang siap menghargai alam dan memahami risikonya. Namun dalam banyak percakapan, masih ada anggapan bahwa dunia pendakian identik dengan laki-laki.
Padahal hari ini, semakin banyak wanita membuktikan bahwa gunung bukan sekadar ruang petualangan, tetapi juga ruang pembuktian diri.
Fenomena ini bisa kita lihat di berbagai gunung populer seperti Gunung Rinjani, Gunung Merbabu, hingga Gunung Prau yang hampir setiap pekan didaki oleh pendaki perempuan dari berbagai usia.
Lalu, apa sebenarnya makna gunung bagi seorang wanita?
Gunung dan Ruang Kebebasan
Bagi sebagian wanita, gunung adalah ruang untuk lepas dari label sosial. Di kota, perempuan sering dibebani ekspektasi: harus tampil rapi, harus bersikap tertentu, harus terlihat “pantas”.
Di gunung, standar itu runtuh. Tidak ada make-up, tidak ada sepatu hak tinggi, tidak ada tuntutan citra. Yang ada hanya langkah, napas, dan tekad.
Gunung memberi ruang kebebasan yang jarang ditemukan di keseharian.
BACA JUGA: Navigasi Pendakian Tanpa GPS Mahal, Manfaatkan Aplikasi Offline di Android agar Tak Tersesat
Mendobrak Stereotip Lama
Masih ada anggapan bahwa wanita terlalu lemah untuk menghadapi medan berat, cuaca ekstrem, atau perjalanan panjang berjam-jam. Namun realitas di lapangan berkata sebaliknya.
Banyak pendaki perempuan mampu menyelesaikan pendakian dengan mental yang stabil dan manajemen energi yang baik. Bahkan tak jarang, justru perempuan yang lebih disiplin dalam perencanaan logistik dan keselamatan.
Ini bukan soal siapa lebih kuat. Ini soal kesiapan dan ketahanan mental.
Antara Risiko dan Keberanian
Mendaki gunung tetap memiliki risiko, baik bagi laki-laki maupun perempuan. Cuaca buruk, jalur tersesat, hingga cedera bisa terjadi pada siapa saja.
Namun keberanian perempuan untuk tetap melangkah menunjukkan bahwa ketakutan bukan alasan untuk berhenti berkembang.
Gunung mengajarkan bahwa rasa takut bukan untuk dihindari, melainkan untuk dikelola.
BACA JUGA: Bikin Takjub! 5 Gunung di Indonesia dengan Padang Savana yang Ikonik
Gunung Sebagai Ruang Refleksi Diri
Banyak wanita mengaku menemukan versi terbaik dirinya justru saat berada di ketinggian. Di tengah sunyi dan dingin, muncul dialog batin yang jujur.
Gunung menjadi tempat belajar sabar, belajar tangguh, dan belajar menerima keterbatasan. Saat mencapai puncak, yang dirayakan bukan hanya panorama, tetapi juga perjalanan batin.
Kesetaraan di Jalur Pendakian
Di jalur pendakian, semua orang memikul beban masing-masing. Carrier yang berat tidak membedakan gender. Tanah terjal tidak peduli siapa yang menginjaknya.
Gunung adalah simbol kesetaraan paling jujur. Ia hanya “menghargai” persiapan, bukan jenis kelamin.
Karena itu, narasi bahwa gunung bukan tempat bagi wanita perlahan menjadi usang.
Wanita dan Gunung: Lebih dari Sekadar Tren
Meningkatnya jumlah pendaki perempuan bukan sekadar tren media sosial. Ini adalah refleksi perubahan cara pandang: bahwa perempuan berhak memilih tantangannya sendiri.
Selama dilakukan dengan persiapan matang dan kesadaran risiko, mendaki adalah hak siapa saja.
Gunung tidak pernah membatasi. Manusialah yang sering membuat batas.
(mc/ns)






