Survei Jalur Pendakian Gunung Rinjani 2026: Aik Berik, Timbanuh, Tetebatu hingga Sembalun

  • 21 February 2026 09:19
Survei Gunung Rinjani 2026

Foto: TN Gunung Rinjani

Mounture.com — Upaya peningkatan kualitas pendakian terus dilakukan oleh Balai Taman Nasional Gunung Rinjani melalui serangkaian survei jalur di kawasan Gunung Rinjani.

Langkah ini disebut menjadi bagian dari komitmen menghadirkan pendakian yang lebih aman, nyaman, dan tetap mengedepankan prinsip konservasi.

Kegiatan survei dilakukan pada 11–12 Februari 2026 untuk jalur Aik Berik dan Timbanuh, dan 16–17 Februari 2026 untuk jalur Tetebatu.

Tim mencatat secara detail berbagai temuan lapangan, mulai dari kondisi jalur, titik rawan kecelakaan, kebutuhan fasilitas keselamatan, hingga aspek kenyamanan pendaki. Seluruh data dianalisis sebagai dasar penentuan prioritas perbaikan dan pengembangan sarana prasarana.

Pendekatan ini memastikan pengelolaan jalur tidak lagi berbasis asumsi, melainkan berdasarkan kondisi riil di lapangan.

BACA JUGA: Kinerja Pariwisata 2025 Lampaui Target, Kontribusi Capai Rp1.143 Triliun dan Serap 25,91 Juta Tenaga Kerja

Sebelumnya, pada 5–7 Februari 2025, Balai TN Gunung Rinjani juga melaksanakan survei perencanaan pembangunan sarana pengaman di jalur Sembalun, Torean, dan Senaru.

Kegiatan tersebut mencakup penentuan lokasi pembangunan shelter, pemasangan railing pengaman di titik rawan, perbaikan dan penataan jalur, dan penelusuran sumber mata air, terutama di area Plawangan Sembalun.

Air menjadi faktor vital di ketinggian, sehingga pemetaan sumber air menjadi bagian penting dalam perencanaan keselamatan pendaki.

Petugas turut mendampingi konsultan perencana untuk membaca kontur medan, memetakan risiko, dan mengidentifikasi kebutuhan fasilitas secara menyeluruh.

Di masa penutupan jalur pendakian, berbagai persiapan terus dilakukan agar saat dibuka kembali, seluruh jalur telah melalui peningkatan kualitas yang signifikan.

Langkah ini menegaskan bahwa pengelolaan pendakian Gunung Rinjani dilakukan secara profesional, terstruktur, dan berbasis data. Tujuannya jelas yakni pendakian lebih aman, fasilitas lebih tertata, kenyamanan meningkat, dan lingkungan tetap terjaga.

Karena pendakian yang baik selalu dimulai dari perencanaan yang matang.

(mc/ril)