
Mounture.com — Pendaki gunung tentu sudah tidak asing dengan istilah MDPL (Meter di Atas Permukaan Laut), satuan yang digunakan untuk menunjukkan elevasi suatu tempat, termasuk tinggi puncak gunung di Indonesia. Namun, bagaimana sebenarnya MDPL diukur?
Menurut penjelasan dari Badan Informasi Geospasial (BIG) melalui akun resmi Instagram @infogeospasial, penentuan MDPL dilakukan melalui berbagai metode yang berkembang seiring kemajuan teknologi.
Konsep pengukuran ketinggian sendiri telah dikenal sejak 1400 tahun sebelum masehi. Di Indonesia, praktik pengukuran elevasi sudah dilakukan sejak masa kolonial menggunakan beragam instrumen.
Kini, BIG mengungkap beberapa metode utama yang digunakan untuk menentukan tinggi permukaan tanah hingga puncak gunung.
1. Pengukuran Tinggi Barometris
Metode ini memanfaatkan tekanan udara. Semakin tinggi suatu tempat, tekanan udara semakin rendah.
– Keuntungan: mudah dilakukan.
– Kekurangan: akurasi rendah karena dipengaruhi kondisi atmosfer.
2. Pengukuran Tinggi Optis (Levelling)
Pengukuran dilakukan menggunakan alat sipat datar atau levelling, mirip prinsip penggaris dari permukaan laut menuju titik tertentu. Metode ini membutuhkan waktu lama, tetapi hasilnya sangat akurat.
Titik referensi yang digunakan adalah Mean Sea Level (MSL) atau rata-rata permukaan laut, yang dihitung melalui pengamatan pasang surut secara kontinu.
BIG saat ini mengoperasikan 292 stasiun pasang surut di seluruh Indonesia sebagai acuan pengukuran.
BACA JUGA: 10 Tips Aman dan Nyaman Ngecamp saat Musim Hujan di Gunung
3. Pengukuran Menggunakan Teknologi Satelit (GNSS/GPS)
Teknologi satelit memungkinkan pengukuran 3 dimensi (lintang, bujur, tinggi) dengan cepat dan akurat. Namun, untuk keperluan teknis dan presisi tinggi, seperti engineering, kebencanaan, pemetaan, dan geologi, data tinggi dari GNSS saja belum cukup.
Diperlukan proses konversi dengan Geoid, yaitu model yang merepresentasikan permukaan rata-rata laut ke seluruh daratan. BIG menjelaskan rumusnya:
H = h − N
H = tinggi sebenarnya
h = tinggi GNSS
N = tinggi Geoid
Indonesia telah memiliki model tinggi Geoid resmi bernama InaGeoid2020, yang dapat diakses publik melalui laman srgi.big.go.id.
(mc/ril)






