0

Sejarah Cikasur di Gunung Argopuro

  • 11 Juni 2018 09:16

(Mounture.com) — Mungkin bagi pendaki gunung sudah tidak asing dengan nama Cikasur, ya tempat ini merupakan salah satu lokasi yang terletak di Gunung Argopuro. Gunung Argopuro sendiri berada diantara Kabupaten Probolinggo dan Situbondo, Jawa Timur.

Cikasur merupakan salah satu pos pendakian menuju Gunung Argopuro, yang memiliki puncak tertinggi dataran Hyang (3.088 meter di atas permukaan laut). Cikasur dulunya adalah sebuah lapangan udara di ketinggian 2.200 meter di atas permukaan laut di Pulau Jawa yang diberi nama Lapangan Udara Cikasur.

Setelah tak lagi menjadi lapangan terbang, Cikasur kini sudah tertutup sabana dan sebuah rumah sebagai pengontrol lapangan terbang sudah rusak. Tinggal menyisakan reruntuhan dan tiang-tiang pancang bangunan.

Adapun pengucapan Cikasur pada masyarakat lokal yang berada di lereng Gunung Argopuro adalah Sikasur. Nama Sikasur sendiri berasal dari dua kata yakni Siti dan Kasur. Siti dalam bahasa Jawa kuno memiliki makna tanah, bisa juga berarti suatu tempat atau daerah.

Sedangkan kata Kasur berarti ‘kasur atau matras’ (tempat tidur yang empuk). Jadi disimpulkan Cikasur atau Sikasur adalah daerah atau tempat yang diidentikkan sebuah kasur. Dan penamaan Cikasur sendiri adalah merupakan ‘plesetan kata’ para leluhur di Argopuro pada zaman dahulu untuk menamai sabana yang luas nan syahdu ini.

Penamaan Cikasur sendiri diambil dari kata Ci yang mengingatkan banyak nama tempat di tanah Sunda, kendati demikian, Si-kasur ataupun Ci-kasur itu memiliki arti yang sama ketika kita mengacu berdasarkan sejarah lawas yang mengiringinya.

Cikasur sendiri menyimpan banyak kenangan sejak era Kejayaan Nusantara Lama (jauh sebelum zaman Majapahit) sampai datangnya masa penjajahan Kolonial Belanda maupun Jepang. Hadirnya banyak kepentingan para pihak asing saat itu memang mendatangkan sedikit banyak manfaat di Cikasur dan Argopuro pada umumnya, namun sebagian juga ada yang sengaja menghilangkan.

Seperti ketika pembuatan jalur landasan pesawat yang tak jauh dari pohon bidara (pohon jomblo). Namun, di area tersebut terdapat bangunan peninggalan leluhur berupa pelataran sebagai tempat pemujaan yang mengarah ke arah puncak.

Kenangan-kenangan tersebut semakin terkubur bersama sunyi dan dinginnya dataran tinggi Argopuro. Ikut tenggelam berbaur dengan banyak mitos, tahayul, cerita rakyat, kulturisme dan rasa acuh ‘atas nama modernisasi’ akan fakta sejarah itu sendiri.

Selain Sikasur, beberapa tempat lain di kawasan Gunung Argopuro yang juga memiliki nama dengan awalan kata “Si” antara lain:
– Sisentor/Cisentor
– Simesem
– Sijeding
– Situnjung
– Sitancak
– Silonying. (MC/DC)

Sumber: “The Mountain of God: A study in early religion and kings” (Sir H.G.Quaritch Wales – England tahun 1900) dan berbagai sumber lainnya.
Foto: Instagram/@egasuryadi_