Ditemani ‘Sosok Putih’ di Gunung Salak

(Mounture.com) — Awalnya, kami berempat berencana melakukan pendakian ke Gunung Salak via Cidahu dengan menggunakan sepeda motor berangkat pada pukul 20.00 WIB menuju ke basecamp, agar tiba di lokasi basecamp kami bisa tepat waktu. Namun, rencana tersebut mundur di mana akhirnya kami pun berangkat pada pukul 23.00 WIB.

Adapun alasan kami untuk mendaki ke Gunung Salak via Cidahu, karena salah satu dari sekian jalur yang resmi dan sering menjadi opsi untuk mendaki Gunung Salak jadi kami anggap pasti ramai pendaki di sana dan kami pun berharap akan mendapatkan barengan lainnya atau bertemu kelompok pendaki lain.

Setelah berangkat dari Jakarta, kami tiba di Desa Cidahu sekitar pukul 03.00 WIB, di sana kami bingung, karena tidak ada informasi yang dapat kami jadikan rujukan untuk menuju basecamp. Kami bingung, pasalnya titik maps yang kami gunakan ternyata salah!! makanya kami nyasar, dan kami pun belum ada yang pernah mendaki ke Gunung Salak. Jadilah kami mampir ke sebuah mushola sekalian untuk beristirahat.

Di mushola, kami beristirahat sembari menunggu waktu sholat Subuh. Saat Subuh tiba, kami bertemu dengan warga sekitar dan kami pun bertanya informasi mengenai basecamp Cidahu, akhirnya pun kami diarahkan oleh warga sekitar.

Seusai melaksanakan ibadah sholat Subuh, kami pun melanjutkan perjalanan untuk menuju ke basecamp Gunung Salak via Cidahu dan sesampainya di basecamp kami pun kembali beristirahat sekitar 3 jam. Situasi di lokasi terbilang sepi, di mana tidak ada warung yang buka di hari biasa.

Tapi beruntung, kami bertemu dengan penduduk yang baik hati untuk membantu mencarikan kami makanan dan logistik. Sekitar jam 10.00 WIB, kami mulai mendaki setelah melakukan registrasi, kami mulai treking di jalan aspal yang dihampit pohon cemara melewati bumi perkemahan, warung-warung warga.

Sampailah kami di pintu masuk jalur Gunung Salah via Cidahu, dengan membaca doa, kami berempat mulai melangkah perlahan menyusuri jalur berbatu. Sekitar 1 jam kami berjalan, kami pun memutuskan untuk beristirahat.

Salah satu teman kami ada yang membaca catatan perjalanan mengenai jalur yang kami lewati, singkat cerita dia bilang kalau dari sini sampai Puncak Manik itu cuma 5 kilometer saja, kami tak menghiraukan perkataan dia, setelah beristirahat kami siap-siap melanjutkan perjalanan.

Dan tak disangka jalur yang kami temui sangat menanjak dan perlahan tenaga dan psikis kami melemah. Sekitar pukul 18.00 WIB, kami sampai di Pos Bayangan, yaitu H25 (kalau tidak salah), karena kami banyak beristirahat di sepanjang jalur.

Kemudian, kami lanjutkan perjalanan kembali setelah beribadah, kondisi pun sudah menggelap, di mana situasi hutan mulai membuat nyali kami menciut. Tidak lama kami meninggalkan Pos Bayangan, di belakang kami seperti ada yang melambai-lambai memberi isyarat jangan diteruskan. Namun setelah kutengok, tidak ada orang, dan aku pun hanya bisa berdoa di dalam hati.

Karena untuk memutar haluan atau kembali tidak mungkin, karena tinggal sedikit lagi tapi karena jalurnya menanjak, seakan-akan jauh. Benar saja saat mengantri untuk mendaki di depan barisan temanku seperti ada yang ikut mendaki.

Saat aku tengok, bayangan putih itu cepat menghilang, semakin mencekam malam itu, kami berjalan seperti ada yang memimpin rombongan kami, jadi kami berjalan menjadi lima kepala karena aku berada di baris paling belakang jadi agak samar aku melihat sosok seperti menggunakan gamis berwarna putih berjalan setengah terbang.

Sesak napasku saat itu seperti tertahan aliran darahku, lemas kaki ini sesaat tapiku coba untuk fokus dan berdoa tiba-tiba di belakangku seperti ada yang mengikuti langkahku di saat itu, aku memberi kode untuk beristirahat, kami pun beristirahat dan memastikan keadaan kami aman dangan wajah lelah seperti putus asa kami mencoba kuat untuk melanjutkan perjalanan.

Akhirnya, sampailah kami di Puncak Manik sekitar jam 21.30 WIB, kami bergegas mendirikan tenda dan membuat makanan. Tak lama kami memasak seperti ada yang melintas di sebelah kanan tenda kami, berjubah putih sangat cepat melintas dan setelah kami makan, kami mulai beristirahat, setelah memakai sleeping bag (SB) kami mencoba untuk memejamkan mata.

Tidak kami sadari, entah sadar atau tidak, tenda kami dihantam oleh angin yang sangat kencang, dan gemuruh keadaan malam itu sangat kacau, kami merasakan semua dan kami semua pun berdoa untuk keselamatan kami. Setelah itu, angin pun reda dan kami mulai tenang karena kami terus berdoa malam itu dan tak sadar sudah pagi. Alhamdullilah, kami pun tenang. Setelahnya kami berfoto-foto di puncak.

Tidak kami sadari, ternyata terdapat makam Mbah Salak di sana, kami pun tidak tahu kami munajatkan doa untuk beliau, dan tak lama setelah sarapan dan mengabadikan momen kami bergegas turun agar tidak kemalaman di jalur.

Sampai di basecamp aku bercerita kepada temanku sepanjang perjalanan malam itu dan mereka membenarkan semua karena mereka pun mengalami tapi tidak berani bercerita saat itu juga dan kami bercerita kepada petugas Perhutani di sana dan beliau menjawab dengan tersenyum “kalian hebat dengan mengacungkan jempolnya kepada kami”

Karena hari itu tidak ada pendaki lain selain kami dan purnama malam itu, akhirnya kami pulang dengan selamat tidak ada keganjilan apapun sampai detik ini tulisan ini saya tulis. (Kiriman email dari neiraalfanky12@gmail.com – Instagram @dindinjr)

Foto: dok. Instagram/@gnsalak2211