0

TN Bromo Tengger Semeru Pecahkan Sedimentasi dan Salvinia Ranupani

(Mounture.com) — Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS) mengajak Universitas Brawijawa untuk menangani permasalahan sedimentasi dan Salvinia, akhir pekan lalu.¬†Tim BBTNBTS bersama Tim Agroforestry dari Universitas Brawijaya (UB) bertolak ke Ranupani untuk melihat langsung penyebab permasalahan lingkungan dan danau Ranupani yang mengalami sedimentasi.

Adapun tim Agroforestry UB terdiri dari 5 orang yaitu Didik Suprayogo (Pakar Bio-Geotekstil), Syahrul Kurniawan (Dosen Kimia Tanah), Danny Dwi Saputra (Dosen Fisika Tanah), Prof. Meine van Noordwijk (ICRAF), Prof. Kurniatun Choiriyah (Guru Besar Fakultas Pertanian).

Kepala BB TNBTS John Kenedie, mengatakan TNBTS dan mitra serta volunteer berhasil membersihkan seluruh badan air dengan cara manual pada tahun 2012, namun kembali tertutup oleh gulma tersebut pada tahun 2017. Tahun 2018 TNBTS bersama mitra dan volunteer kembali berhasil membersihkan secara total badan air danau.

“Oleh karena itu, tim TNBTS dan tim Agrofrestry UB melakukan tinjauan bersama bagaimana penanganan masalah yang tepat untuk mencegah permasalahan tersebut kembali berulang,” katanya dikutip dari laman resmi bromotenggersemeru.org.

“Kami akan melakukan penyusunan rencana penanganan permasalahan Ranupani pada level lanskap dan juga akan mengirimkan mahasiswa Universitas Brawijaya untuk melakukan penelitian lintas disiplin ilmu di Ranupani,” ujar Prof. Kurniatun¬†Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya.

Hasil fieldtrip tersebut adalah rencana aplikasi mulsa biogeotekstil pada lahan pertanian kentang untuk mengurangi run off dan erosi permukaan serta untuk meningkatkan produktivitas hasil pertanian. Mulsa tersebut dibuat dengan bahan-bahan yang terdapat di sekitar desa.

Rencana aplikasi dilakukan dengan cara melakukan pendekatan kepada masyarakat melalui kelompok pengelola role model Briket Arang Desa Ranupani yang merupakan mitra TNBTS. Aplikasi biogeotekstil sudah pernah diujicobakan pada lahan pertanian kentang di DAS Rejoso dan dapat diterima dengan baik oleh petani.

Permasalahan yang dihadapi saat ini adalah danau Ranupani mengalami sedimentasi akibat kegiatan pertanian kentang pada catchment area danau yang merupakan desa enclave Ranupani. Air danau juga tercemar oleh limbah pupuk dari lahan pertanian, akibatnya air danau mengalami eutrofikasi sehingga penuh dengan gulma invasif Salvinia molesta. (MC/DC)

Foto: dok BB TNBTS