0

304 Mahasiswa IPB Lakukan Kegiatan Turun Lapang di TNGC

(Mounture.com) — Sebanyak 304 mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) jurusan komunikasi pengembangan masyarakat, Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan masyarakat Fakultas Ekologi Manusia melaksanakan kegiatan turun lapang pada 4-6 Mei 2018 di enam desa penyangga lingkup SPTN WIl I Kuningan yaitu Desa Kaduela, Desa Pasawahan, Desa Cibuntu, Desa Setianegara, Desa Linggajati dan Desa Cisantana.

Kegiatan praktek turun lapang langsung dalam rangka menganalisis realitas sosial, masalah sosio agraria, perubahan sosial, kelembagaan dan model kepimpinan serta pengelolaan kolaboratif SDA di desa penyangga Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) ini didampingi Dosen IPB yaitu Dr. Soeryo Adiwibowo, Dr Satyawan Sunito, Ir. Fredian Tonny, MS dan Mahmudi Siwi, SP, MS dan asisten dosen IPB sebanyak 15 orang.

Adapun desa penyangga di sekitar kawasan TNGC terpilih menjadi lokasi praktek mahasiswa dikarenakan proses sosialnya sangat dinamis dan mengalami pergerakan pesat khususnya dalam memahami fungsi dan manfaat kawasan TNGC berdasarkan kelola ekologi, ekonomi dan sosial.

Secara garis besar, realitas sosial di desa penyangga TNGC mengalami pergerakan yang signifikan dimana 14 tahun yang lalu ketika kawasan Gunung Ciremai berubah fungsi menjadi taman nasional reaksi yang ditunjukkan masyarakat adalah negatif dan berfikir kawasan Gunung Ciremai akan close access.

Namun, saat ini masyarakat penyangga sudah memahami secara luas manfaat kawasan TNGC yang tidak hanya dimanfaatkan secara langsung dengan mengolah lahan namun dari jasa lingkungan kawasan TNGC seperti air dan wisata alam. Yang paling menarik adalah bagaimana terbentuknya pengelolaan kolaboratif sumberdaya alam antara kawasan TNGC dengan masyarakat penyangga.

Peluang dan akses yang diberikan Balai TNGC kepada masyarakat untuk meningkatkan pendapatan secara ekonomi tanpa mengesampingkan ekologi kawasan memberikan perubahan sosial yang luar biasa, dimana saat ini masyarakat sudah memiliki kepercayaan dan keyakinan bahwa dengan mengelola potensi kawasan dengan wisata alam memberikan keberlanjutan pendapatan ekonomi yang tidak hanya dirasakan oleh pengelola saja namun masyarakat sekitarnya seperti warung, transportasi, akomodasi berupa homestay dan lain sebagainya. (MC/DC)

Foto: Dok. tngciremai.com